Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut fasilitas komputasi awan Amazon di Bahrain menjadi sasaran karena dianggap mendukung infrastruktur teknologi dan intelijen yang digunakan Amerika Serikat serta Israel. Iran menilai pusat data tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung operasi kedua negara di kawasan.
Pihak Iran menyatakan serangan dilakukan menggunakan rudal jelajah berpresisi tinggi. Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan fasilitas maupun dampaknya terhadap layanan Amazon Web Services di wilayah Timur Tengah. Otoritas Bahrain dan Amazon juga belum memberikan rincian resmi terkait klaim tersebut.
Serangan yang diklaim Iran terjadi di tengah meningkatnya aksi saling serang antara Teheran dan Washington. Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak terus melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target strategis, termasuk pangkalan militer, infrastruktur energi, hingga jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Pengamat menilai, apabila klaim tersebut terbukti benar, serangan terhadap pusat data perusahaan teknologi global dapat memperluas dampak konflik ke sektor digital dan layanan komputasi awan. Hal ini berpotensi mengganggu operasional bisnis yang bergantung pada infrastruktur cloud di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang terus meningkat juga memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas kawasan Teluk dan keamanan infrastruktur penting yang menopang aktivitas ekonomi global.
Sumber: CNN Indonesia
