Seo Services

Harga Emas Dunia Tertekan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Menguat


JAKARTA – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (1/7) setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Pelemahan tersebut dipicu oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kembali kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga.

Berdasarkan laporan Reuters, harga emas di pasar spot turun sekitar 0,6% menjadi US$3.981,69 per troy ounce pada perdagangan pagi. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus melemah sekitar 1,1% ke level US$3.994,40 per troy ounce. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas sehari sebelumnya jatuh ke posisi terendah sejak November 2025.

Sentimen pasar berubah setelah peluang tercapainya terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran dinilai semakin mengecil. Pemerintah Iran menyatakan belum bersedia melakukan pertemuan dengan utusan senior Amerika Serikat yang datang ke kawasan menyusul meningkatnya ketegangan beberapa waktu terakhir.

Selain itu, pejabat Iran menegaskan bahwa kedua negara masih harus menyelesaikan implementasi perjanjian gencatan senjata yang dicapai dua pekan lalu sebelum melanjutkan pembahasan mengenai isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mencermati potensi peningkatan tekanan inflasi global apabila ketegangan geopolitik kembali memanas.

Di sisi lain, pasar juga mendapat tekanan dari pernyataan Presiden Federal Reserve Bank Cleveland, Beth Hammack, yang mengatakan masih terbuka kemungkinan mendukung kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi di Amerika Serikat tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pernyataan tersebut memperkuat pandangan investor bahwa kebijakan moneter The Fed akan tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 67% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September.

Kenaikan suku bunga umum menjadi sentimen negatif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga, daya tarik emas cenderung berkurang ketika suku bunga meningkat karena investor lebih memilih instrumen investasi yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Perhatian investor kini berkumpul pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan versi ADP dan data nonfarm payrolls. Kedua indikator tersebut diperkirakan akan menjadi acuan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Sementara itu, survei yang dilakukan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan semakin banyak bank sentral di berbagai negara berencana mengurangi porsi kepemilikan aset dalam dolar Amerika Serikat selama dekade mendatang. Langkah tersebut memicu meningkatnya risiko geopolitik dan intimidasi terhadap mata uang AS, yang dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset alternatif seperti emas.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak turun sekitar 0,9% menjadi US$58,04 per troy ounce, platinum terkoreksi 0,9% menjadi US$1.537,78, sedangkan paladium justru naik tipis sekitar 0,2% menjadi US$1.202,33 per troy ounce.

Analis menilai arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, dinamika inflasi global, serta keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi dan dolar AS bertahan kuat, harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan meskipun geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat menopang permintaan terhadap aset safe haven.


Sumber: Reuters

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.