Seo Services

Serangan Drone Rusia Hantam Kyiv, Hotel di Pusat Kota Terbakar dan Warga Mengungsi ke Bunker

 


KYIV – Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan drone Rusia pada Rabu malam hingga Kamis dini hari (2/7). Serangan tersebut memicu kebakaran di sebuah hotel di pusat kota, merusak sejumlah bangunan organisasi, dan memaksa ribuan warga berlindung di stasiun bawah tanah saat sirene serangan udara terdengar di hampir seluruh wilayah negara itu.

Berdasarkan laporan Reuters, serangan dilakukan menggunakan drone dan rudal yang menghantam beberapa titik di Kyiv. Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 50 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk anak-anak, petugas medis, dan pengemudi ambulans yang sedang bertugas.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan salah satu serangan menyebabkan kerusakan parah pada sebuah gedung apartemen sembilan lantai setelah proyektil menghantam langsung bangunan tersebut. Enam lantai bangunan mengalami keruntuhan sebagian, sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian terhadap warga yang diduga masih terjebak di bawah pemeliharaan.

Selain kawasan wirausaha, sebuah hotel yang berada di kawasan Shevchenko Boulevard, pusat Kota Kyiv, juga terbakar setelah terkena serangan puing-puing. Foto dan video yang beredar menampilkan kobaran api membesar di bagian atas gedung, sementara petugas pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan si jago merah.


Puluhan Lokasi Mengalami Kerusakan

Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, menyatakan sedikitnya tiga lusin lokasi di berbagai distrik kota mengalami kerusakan akibat gelombang serangan tersebut. Bangunan tempat tinggal, kendaraan, fasilitas umum, hingga utilitas menjadi sasaran dampak ledakan maupun puing-puing drone yang berhasil ditembak jatuh.

Menurutnya, serangan kali ini kembali menyasar kawasan organisasi sipil sehingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang cukup luas.

"Musuh sekali lagi dengan sengaja menyerang lingkungan tempat tinggal warga sipil," tulis Tkachenko melalui Telegram, seperti dikutip Reuters.


Warga Berlindung di Stasiun Metro

Selama serangan berlangsung, sirene peringatan udara dibunyikan di sebagian besar wilayah Ukraina. Ribuan warga Kyiv membongkar stasiun metro yang difungsikan menuju sebagai bunker darurat.

Reuters melaporkan banyak keluarga datang membawa anak-anak, tas berisi kebutuhan pokok, hewan peliharaan, hingga perlengkapan tidur untuk mengantisipasi serangan yang berlangsung sepanjang malam. Suara ledakan terdengar berulang kali di berbagai penjuru kota ketika sistem pertahanan udara Ukraina berupaya mencegat drone dan rudal yang datang.


Zelensky Pangkas Kunjungan ke Irlandia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya telah memperingatkan akan adanya potensi serangan besar dari Rusia. Karena ancaman tersebut, ia memutuskan memperpendek kunjungannya ke Irlandia, yang saat itu memulai masa kepemimpinan bergilir di Uni Eropa, untuk kembali menjaga situasi di dalam negeri.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, kembali mendesak negara-negara Barat agar mempercepat pengiriman sistem perlindungan udara tambahan. Menurutnya, meningkatnya intensitas serangan Rusia menunjukkan kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan yang lebih kuat guna melindungi warga sipil dan infrastruktur vital.


Rusia Sebut Serangan Sebagai Balasan

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan operasi tersebut merupakan serangan balasan terhadap sasaran militer dan infrastruktur energi Ukraina. Moskow menuduh Kyiv sebelumnya melakukan serangan terhadap fasilitas sipil dan energi di wilayah Rusia menggunakan drone jarak jauh.

Konflik udara antara kedua negara terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ukraina memperluas serangan drone ke berbagai wilayah Rusia, termasuk fasilitas energi dan logistik, sementara Rusia meningkatkan penggunaan drone serta rudal untuk menyerang kota-kota besar di Ukraina. Kedua pihak saling membantah tuduhan sengaja menyasar warga sipil, meskipun korban dari kalangan masyarakat terus bertambah.

Serangan terbaru di Kyiv kembali menunjukkan bahwa perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun masih jauh dari penyelesaian. Di tengah mandeknya proses diplomasi dan terus meningkatnya intensitas serangan melintasi perbatasan, warga sipil tetap menjadi kelompok yang paling terdampak oleh konflik berkepanjangan tersebut.


Sumber: Reuters

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.