Temuan itu disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama otoritas kesehatan RD Kongo setelah melakukan penelusuran terhadap sejumlah pasien dan sampel laboratorium. Dari hasil penyelidikan, virus diduga telah beredar secara diam-diam selama berbulan-bulan sebelum akhirnya dikonfirmasi sebagai wabah Ebola.
Keterlambatan deteksi terjadi karena gejala awal Ebola memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit tropis lain, seperti malaria dan demam tifoid. Kondisi tersebut membuat sejumlah kasus awal tidak langsung teridentifikasi sebagai infeksi virus Ebola, sehingga penularan diduga terus berlangsung di sejumlah komunitas.
Sejak wabah diumumkan, pemerintah RD Kongo bersama WHO telah meningkatkan upaya pengendalian, mulai dari pelacakan kontak erat, isolasi pasien, vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai cara mencegah penyebaran virus. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu memutus rantai penularan secepat mungkin. (cnnindonesia.com)
Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengan tingkat kematian yang tinggi apabila tidak segera ditangani. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita maupun benda yang telah terkontaminasi. Gejala awal meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, muntah, diare, hingga perdarahan pada kasus yang lebih berat.
WHO mengingatkan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam pengendalian wabah. Organisasi tersebut juga terus memberikan dukungan teknis dan logistik kepada pemerintah RD Kongo agar penyebaran virus tidak meluas ke wilayah lain maupun negara tetangga.
Para ahli kesehatan menilai temuan bahwa virus kemungkinan telah beredar sejak Januari menjadi pengingat penting bahwa sistem surveilans penyakit menular harus terus diperkuat. Dengan deteksi yang lebih cepat, risiko penyebaran wabah berskala besar dapat ditekan dan penanganan terhadap pasien bisa dilakukan lebih efektif.
Sumber: CNN Indonesia