Seo Services

Bekasi Mulai Modernisasi Pertanian


BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai mendorong perubahan besar dalam pola budidaya padi dengan menerapkan sistem pertanian modern. Program ini menjadi langkah untuk meninggalkan pola pertanian konvensional yang selama ini banyak mengandalkan kebiasaan turun-temurun. 

Modernisasi tersebut dilakukan melalui program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) dengan metode tanam benih langsung (Tabela). Sebagai tahap awal, program diterapkan di lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdillah Majid mengatakan program tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani. Petani tidak hanya diajarkan cara menanam, tetapi juga diperkenalkan pada proses budidaya yang lebih terukur, mulai dari pengolahan lahan hingga pengendalian gulma.

Salah satu perbedaan utama dengan pola konvensional adalah adanya pemeriksaan kondisi tanah sebelum penanaman. Petani bersama penyuluh melakukan pengecekan tingkat keasaman atau pH tanah agar perlakuan terhadap lahan dapat disesuaikan dengan kondisi sebenarnya.

Di lahan percontohan Bojongmangu, hasil pengukuran menunjukkan pH tanah berada di angka 5,5. Untuk memperbaiki kondisi tanah, petani menggunakan kapur dolomit sekitar 500 kilogram pada lahan 4.000 meter persegi yang diberikan dalam dua tahap.

Program ini juga menggunakan varietas padi Inpari 33 dengan kebutuhan benih sekitar 15 kilogram pada tahap awal. Dari lahan percontohan tersebut, pemerintah menargetkan sedikitnya empat ton gabah saat panen.

Menariknya, sistem modern tersebut juga mengubah cara petani mengatur air. Setelah benih ditanam, lahan tidak langsung digenangi selama sekitar lima hari pertama. Cara ini dilakukan untuk mencegah benih membusuk sekaligus mengurangi risiko serangan penyakit. Setelah tanaman mulai tumbuh, pemantauan dilakukan secara berkala dan pemupukan pertama diberikan sekitar usia 10 hari sesuai rekomendasi teknis.

Pemerintah Kabupaten Bekasi berharap penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Saat ini, hasil panen padi di wilayah Bojongmangu rata-rata berada di kisaran lima ton per hektare, sedangkan melalui sistem pertanian modern produktivitas ditargetkan dapat mencapai 10 ton per hektare.

Lahan percontohan tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat belajar bagi petani lain. Pemerintah menargetkan setiap desa memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi, sehingga petani dapat melihat secara langsung perbedaan hasil antara metode konvensional dan teknologi pertanian modern.

Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyambut baik program tersebut. Ia berharap hasil uji coba dapat menjadi acuan sebelum sistem pertanian modern diterapkan secara lebih luas kepada anggota kelompok tani.

Modernisasi pertanian di Bekasi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan daerah. Dengan pengelolaan lahan yang lebih terukur, petani diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama.

Jika program ini berhasil, perubahan pola bertani di Bojongmangu dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kabupaten Bekasi. Dari yang sebelumnya mengandalkan metode konvensional, petani mulai diarahkan menuju sistem budidaya yang lebih modern, terukur, dan berbasis teknologi.

Sumber: ANTARA
ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.