JAKARTA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menyerang kapal perang Amerika Serikat menggunakan rudal balistik dalam eskalasi terbaru konflik kedua negara di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi pada Minggu (6/9). Menurut klaim Iran, rudal balistik yang diluncurkan Pasukan Dirgantara IRGC menyasar sebuah kapal induk dan kapal perusak milik Angkatan Laut AS.
IRGC menyatakan serangan itu menyebabkan kapal-kapal perang AS mengalami kerusakan dan meninggalkan wilayah operasi. Iran juga mengeklaim serangan dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas militer Amerika terhadap kapal-kapal Iran di kawasan.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Amerika Serikat. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengakui bahwa Iran memang meluncurkan rudal balistik ke arah kapal perang AS yang sedang beroperasi di kawasan, tetapi menyatakan kapal-kapal tersebut berhasil menghindari serangan.
Militer AS juga menyebut tidak ada personel yang terluka dalam insiden tersebut. Dengan demikian, klaim Iran mengenai kerusakan kapal perang AS belum dapat dipastikan secara independen.
Ketegangan kemudian semakin meningkat setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak Iran. Washington menyatakan kapal-kapal tersebut terkait dengan jaringan yang membantu pendanaan IRGC.
Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan terhadap kepentingannya akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di kawasan, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.
Eskalasi terbaru antara Iran dan AS juga mulai berdampak pada pasar minyak. Harga minyak mentah naik pada Senin (7/9) karena meningkatnya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dan aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Sumber: CNN Indonesia