TEL AVIV – Militer Israel menghadapi tekanan besar terkait kebutuhan pendanaan dan ketersediaan persenjataan. Kondisi ini disebut terjadi setelah operasi militer yang berlangsung dalam periode panjang dan membutuhkan biaya besar.
Menurut laporan yang dikutip CNN Indonesia, kebutuhan dana militer Israel disebut mencapai sekitar Rp216 triliun. Pada saat yang sama, persediaan sejumlah jenis senjata dan amunisi dilaporkan semakin menipis.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Israel untuk mempertahankan kemampuan militernya. Pengadaan kembali persenjataan membutuhkan anggaran besar sekaligus waktu produksi yang tidak singkat.
Di tengah persoalan tersebut, Amerika Serikat masih menjadi salah satu sumber utama dukungan persenjataan bagi Israel. Reuters melaporkan pemerintahan AS pada September 2026 tengah merencanakan paket penjualan amunisi senilai sekitar US$2,8 miliar untuk Israel.
Paket tersebut dilaporkan mencakup puluhan ribu bom berbobot 2.000 pon. Rencana penjualan itu menjadi bagian dari upaya pengadaan kembali persenjataan Israel di tengah kebutuhan militer yang terus meningkat.
Persoalan stok senjata juga menunjukkan besarnya kebutuhan logistik dalam konflik berkepanjangan. Penggunaan persenjataan dalam jumlah besar tidak hanya berdampak pada anggaran, tetapi juga membutuhkan kapasitas industri pertahanan untuk memproduksi dan mengisi kembali persediaan.
Sumber: CNN Indonesia