Seo Services

Asap Karhutla RI Menyeberang, Malaysia dan Singapura Ikut Terdampak

 

JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai dirasakan hingga ke negara tetangga. Warga di sejumlah wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengungkapkan dampak yang mereka rasakan akibat memburuknya kualitas udara.

Sejumlah kesaksian tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Greenpeace Indonesia. Warga dari berbagai daerah menceritakan bagaimana asap karhutla mulai mengganggu aktivitas sehari-hari hingga menimbulkan persoalan kesehatan.


Di Pontianak, Kalimantan Barat, relawan Bimpi Permata Restu mengatakan kondisi kabut asap kembali menebal setelah sebelumnya sempat membaik. Selain mengganggu pernapasan, kondisi tersebut juga disebut berdampak pada ketersediaan air bersih.

Sementara itu, warga Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Pralensa mengatakan dirinya harus menghirup udara bercampur asap hampir setiap hari. Kondisi tersebut turut berdampak pada keluarganya, terutama istrinya yang memiliki riwayat asma dan harus lebih banyak berada di dalam rumah.


Keluhan serupa datang dari Palembang. Kartika Lestari mengungkapkan buruknya kualitas udara membuat sejumlah anak mengalami gangguan pernapasan dan harus mendapatkan perawatan menggunakan nebulizer.

Dampak asap juga mulai dirasakan masyarakat di negara tetangga. Di Malaysia, Muhammad Syahir mengatakan putrinya mengalami sesak di bagian dada dan kesulitan bernapas hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Sementara di Singapura, Yi Feng dari Climate Rally menyebut kualitas udara mengalami perubahan dan turut memicu gangguan pada masyarakat yang memiliki penyakit kronis.

Fenomena tersebut sejalan dengan kajian awal BRIN yang menunjukkan partikel halus PM2.5 dari karhutla Indonesia berpotensi terbawa angin menuju sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Singapura. Arah serta kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak.


Kondisi udara di Singapura juga sempat masuk kategori tidak sehat. Pada 5 Oktober 2026, indeks pencemaran udara 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 120, sedangkan wilayah barat berada di angka 114. Asap dari kebakaran di Sumatera dan Kalimantan dilaporkan bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura.

Masalah kabut asap ini pun kembali menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia tidak hanya berdampak di dalam negeri. Ketika partikel polutan terbawa angin melintasi perbatasan, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.


Warga di wilayah terdampak kini harus menyesuaikan aktivitas, terutama kegiatan di luar ruangan. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena paparan PM2.5 dapat mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan.


Sumber: CNN Indonesia.

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.