JAKARTA – Kasus penyiksaan terhadap sejumlah anak buah kapal (ABK) terungkap setelah polisi menyelidiki video yang memperlihatkan tindakan kekerasan terhadap para pekerja kapal. Penyiksaan tersebut diduga dilakukan karena para ABK tidak mampu memenuhi target tangkapan cumi yang telah ditetapkan.
Polres Pelabuhan Tanjung Priok mengungkap penyiksaan itu dilakukan terhadap empat ABK. Para korban disebut mengalami perlakuan kekerasan selama bekerja di atas kapal.
Salah satu bentuk penyiksaan yang dilakukan terbilang sadis. Para korban dimasukkan ke dalam tong berisi air sebagai hukuman karena dianggap gagal mencapai target hasil tangkapan cumi.
Tindakan tersebut diduga dilakukan oleh pihak yang memiliki posisi lebih tinggi terhadap para ABK. Para korban tidak hanya mengalami kekerasan secara fisik, tetapi juga mendapat tekanan selama menjalankan pekerjaan di kapal.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan setelah video penyiksaan beredar dan mendapat perhatian masyarakat. Dari hasil penyelidikan, aparat mengungkap dugaan motif di balik tindakan kekerasan tersebut, yakni persoalan target tangkapan cumi.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan perlindungan terhadap pekerja sektor pelayaran dan perikanan. Para ABK yang bekerja di laut berada dalam posisi yang rentan karena harus mengikuti aturan serta target yang ditetapkan selama berada di kapal.
Pihak kepolisian kini menangani kasus tersebut dan mendalami peran masing-masing pihak yang terlibat. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kekerasan terhadap para korban dapat diungkap dan diproses sesuai hukum.
Kasus penyiksaan terhadap empat ABK ini menjadi perhatian karena kekerasan tidak seharusnya digunakan sebagai cara untuk memaksa pekerja memenuhi target produksi. Penegakan hukum diharapkan dapat memberikan perlindungan sekaligus kepastian bagi para pekerja yang menjadi korban.
Sumber: CNN Indonesia