Seo Services

Haze Kembali Selimuti Labuan Bajo, BMKG Ungkap Penyebab Udara Kabur

 

LABUAN BAJO – Fenomena udara kabur atau haze kembali menyelimuti Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (20/10/2026). Kondisi tersebut membuat langit terlihat berkabut dan mengurangi jarak pandang, sementara sejumlah warga mengeluhkan mata perih saat beraktivitas di luar ruangan.

Fenomena ini kembali menjadi perhatian karena Labuan Bajo merupakan salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia. Udara yang tampak seperti diselimuti asap sempat membuat warga bertanya-tanya mengenai sumber pencemaran yang menyebabkan kondisi tersebut.

Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Patricia Christin Seran, menjelaskan bahwa fenomena haze tidak selalu disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi itu dapat muncul akibat akumulasi berbagai partikel di atmosfer, mulai dari debu, asap, emisi kendaraan, hingga aerosol garam laut.


Bukan Hanya Akibat Kebakaran Hutan


BMKG menyebut salah satu kemungkinan penyebab haze di Labuan Bajo adalah partikel asap dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain. Pola angin yang dominan berasal dari timur memungkinkan partikel dari wilayah di sebelah timur NTT terbawa menuju Labuan Bajo.

Wilayah yang berpotensi menjadi sumber kiriman partikel tersebut antara lain kawasan di luar NTT, termasuk Papua dan Kalimantan. Namun, dugaan asal asap itu masih memerlukan analisis meteorologi lebih lanjut untuk memastikan sumber partikulat yang menyebabkan udara kabur.

Maria menegaskan bahwa keberadaan partikel halus dalam pemodelan atmosfer tidak otomatis membuktikan bahwa haze hanya berasal dari asap kebakaran. Penentuan sumbernya membutuhkan analisis angin pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi serta pengukuran kualitas udara secara langsung.

Selain asap, debu kering di permukaan tanah juga dapat berkontribusi. Kondisi cuaca yang lama tidak mengalami hujan lebat membuat debu lebih mudah terangkat. Hujan singkat belum tentu cukup untuk membersihkan partikel yang menumpuk di permukaan.


Penguapan Tinggi dan Emisi Kendaraan Ikut Berpengaruh


Menurut BMKG, posisi semu matahari pada Oktober turut memicu intensitas penguapan yang tinggi. Uap air yang bercampur dengan debu dan partikel lain dapat memperburuk kejernihan udara.

Aktivitas perkotaan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Lalu lintas kendaraan di Labuan Bajo yang meningkat seiring aktivitas pariwisata menghasilkan emisi yang dapat menambah konsentrasi partikel di udara.

Di kawasan pesisir, aerosol garam laut juga berkontribusi terhadap fenomena tersebut. Percikan air laut yang terangkat ke atmosfer menghasilkan partikel garam berukuran kecil yang dapat bercampur dengan debu, asap, dan uap air.

BMKG menjelaskan, kombinasi partikel tersebut dapat tertahan di dekat permukaan akibat kondisi atmosfer tertentu. Ketika bercampur dengan kelembapan udara pesisir, partikel dapat menyerap air dan membesar sehingga semakin memengaruhi kejernihan udara serta jarak pandang.


Jarak Pandang Sempat Terbatas 4–5 Kilometer


Kemunculan haze pada 20 Oktober membuat warga mengeluhkan mata perih ketika berkendara. Keluhan serupa dilaporkan di sejumlah lokasi, termasuk Jalan Frans Nala dan kawasan sekitar Bandara Internasional Komodo.

Pada pengamatan sebelumnya, jarak pandang di Labuan Bajo sempat terbatas sekitar 4 kilometer. Sementara itu, laporan pada 20 Oktober menyebut jarak pandang berada di kisaran 4–5 kilometer.

Kondisi ini menunjukkan bahwa udara kabur bukan sekadar mengubah penampilan langit, tetapi juga dapat memengaruhi kenyamanan masyarakat saat beraktivitas. Meski demikian, jarak pandang yang berkurang tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat pencemaran udara karena pengukuran kualitas udara tetap diperlukan.

Pada kejadian haze sebelumnya, BMKG juga menemukan kondisi inversi suhu di lapisan atmosfer dekat permukaan. Inversi suhu terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin, sehingga pergerakan udara ke atas terhambat dan partikel lebih lama terperangkap di dekat permukaan.

Namun, penyebab pasti kejadian terbaru tetap memerlukan analisis lebih lanjut. BMKG belum memastikan bahwa mekanisme yang sama menjadi penyebab utama munculnya haze pada 20 Oktober.


BMKG Imbau Warga Membatasi Aktivitas Berat


BMKG mengimbau kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan saluran pernapasan, untuk membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika udara terlihat berasap atau berdebu.

Masyarakat juga disarankan memperhatikan kondisi tubuh selama fenomena berlangsung. Apabila mengalami gangguan pernapasan, warga dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.

Di sisi lain, pemantauan kualitas udara secara langsung penting dilakukan untuk mengetahui konsentrasi partikel yang benar-benar berada di atmosfer. Analisis pergerakan angin dan kondisi udara pada berbagai lapisan juga dibutuhkan untuk memperjelas apakah partikel berasal dari sumber lokal atau terbawa dari wilayah lain.

Fenomena haze yang kembali muncul di Labuan Bajo menjadi pengingat bahwa udara kabur dapat terbentuk melalui gabungan faktor alam dan aktivitas manusia. Karena sumbernya belum dipastikan, masyarakat diimbau tidak langsung menyimpulkan bahwa kondisi tersebut semata-mata disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.