Jakarta – Minuman bersoda kerap menjadi pilihan anak-anak karena rasanya manis, menyegarkan, dan mudah ditemukan. Namun, orang tua perlu memperhatikan kandungan di dalamnya. Selain gula, sejumlah minuman bersoda juga mengandung kafein yang dapat memengaruhi kesehatan dan kebiasaan tidur anak.
Kafein selama ini lebih dikenal sebagai zat yang terdapat dalam kopi dan teh. Padahal, beberapa jenis minuman bersoda juga mengandung zat stimulan tersebut. Kandungannya berbeda-beda, bergantung pada merek, jenis, dan ukuran kemasan.
Konsumsi kafein pada anak menjadi perhatian karena tubuh dan otak mereka masih dalam tahap perkembangan. Jika dikonsumsi berlebihan, kafein dapat memicu berbagai efek, mulai dari sulit tidur hingga meningkatnya rasa gelisah.
Penelitian Temukan Kaitan dengan Perkembangan Otak
Sebuah penelitian yang melibatkan 9.632 anak berusia 9–11 tahun di Amerika Serikat mengkaji hubungan antara konsumsi kafein dan perkembangan otak. Data penelitian berasal dari studi Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD).
Peneliti mengumpulkan informasi mengenai konsumsi minuman berkafein, termasuk kopi, teh, dan minuman bersoda. Mereka juga menganalisis durasi tidur anak serta hasil pemindaian otak menggunakan teknologi magnetic resonance imaging (MRI).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi lebih banyak kafein cenderung memiliki durasi tidur lebih pendek. Peneliti juga menemukan hubungan antara konsumsi kafein yang lebih tinggi dan perbedaan pada luas permukaan korteks otak, yaitu lapisan luar otak yang berperan dalam berbagai fungsi kognitif.
Korteks memiliki peran penting dalam proses perhatian, pengambilan keputusan, pemrosesan informasi, serta pengelolaan emosi.
Meski demikian, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa kafein secara langsung menyebabkan perubahan struktur otak. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kafein dan sejumlah perbedaan yang ditemukan pada anak, sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam.
Kafein Dapat Mengganggu Tidur Anak
Salah satu dampak konsumsi kafein yang perlu diperhatikan adalah gangguan tidur. Sebagai zat stimulan, kafein dapat meningkatkan kewaspadaan sehingga anak lebih sulit merasa mengantuk, terutama jika mengonsumsinya menjelang waktu tidur.
Kurangnya waktu tidur dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, dan kemampuan anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Anak yang tidak mendapatkan istirahat cukup juga dapat merasa lelah dan lebih mudah mengalami perubahan suasana hati.
Selain gangguan tidur, konsumsi kafein juga dapat memicu jantung berdebar, rasa gelisah, mual, sakit kepala, hingga peningkatan tekanan darah pada kondisi tertentu. Tingkat kepekaan setiap anak terhadap kafein dapat berbeda-beda.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan jumlah minuman yang dikonsumsi anak, tetapi juga membaca kandungan pada label kemasan. Informasi tersebut membantu orang tua mengetahui apakah suatu produk mengandung kafein dan berapa banyak kandungannya.
Orang Tua Perlu Membatasi Minuman Berkafein
American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak-anak menghindari konsumsi kafein. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan bahwa anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak mengonsumsi minuman berkafein.
Orang tua dapat membiasakan anak memilih air putih sebagai minuman utama. Susu tanpa tambahan gula juga dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan usia anak.
Selain itu, penting untuk membangun kebiasaan membaca label makanan dan minuman sejak dini. Anak perlu memahami bahwa minuman dengan rasa manis atau tampilan menarik belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk dikonsumsi setiap hari.
Konsumsi minuman bersoda juga perlu diperhatikan dari sisi kandungan gula. Jika dikonsumsi terlalu sering, minuman tinggi gula dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi dan kenaikan berat badan berlebih.
Dengan memberikan pemahaman sejak dini, orang tua dapat membantu anak membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih sehat. Membatasi minuman bersoda dan menghindari sumber kafein yang tidak diperlukan menjadi salah satu langkah untuk mendukung kualitas tidur, konsentrasi, serta tumbuh kembang anak.
Sumber : CNN Indonesia
