MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengusulkan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak dilibatkan dalam rencana pertemuan tersebut.
Dilansir CNN Indonesia, Selasa (20/10/2026), usulan pertemuan tiga pemimpin negara itu muncul di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media internasional, Putin menyampaikan gagasan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump pada 9 Oktober 2026. Kremlin juga mengonfirmasi bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan pertemuan tersebut memang sedang berlangsung.
Pertemuan itu berpotensi digelar di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, pada November mendatang. Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan final mengenai pelaksanaan maupun agenda pertemuan tersebut.
Putin Ingin Negosiasi yang Menguntungkan Rusia
Rencana pertemuan tersebut memunculkan perhatian internasional karena berpotensi membahas masa depan Ukraina tanpa melibatkan pemerintah Kyiv secara langsung.
Laporan The Wall Street Journal menyebut Putin berupaya memanfaatkan membaiknya hubungan dengan Trump untuk mendorong penyelesaian konflik yang menguntungkan Moskow.
Di sisi lain, Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pertemuan dengan Putin dan Xi. Namun, ia menyebut pembahasan utama yang diinginkannya adalah pengendalian senjata nuklir dan denuklirisasi, meskipun persoalan perdagangan dan isu internasional lainnya juga berpotensi dibicarakan.
Trump juga kembali mengkritik Zelensky. Ia menyatakan bahwa sudah waktunya ada pihak lain yang mewakili Ukraina dalam negosiasi, sebuah pernyataan yang menambah ketegangan hubungan Washington dan Kyiv.
Ukraina Menolak Perundingan Tanpa Keterlibatan Kyiv
Pemerintah Ukraina menyampaikan keberatan terhadap kemungkinan perundingan yang membahas masa depan negaranya tanpa keterlibatan langsung Kyiv.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai pertemuan yang memberikan tempat kepada Putin tanpa menuntut langkah nyata menuju perdamaian berisiko memperkuat posisi Rusia.
Ukraina selama ini menegaskan bahwa keputusan mengenai wilayah dan masa depan negaranya tidak seharusnya dibuat oleh negara-negara besar tanpa partisipasi pemerintah Ukraina sendiri.
Kekhawatiran Kyiv juga muncul karena perkembangan hubungan Rusia dan Amerika Serikat belakangan ini. Langkah Washington yang melonggarkan sejumlah sanksi terhadap Moskow serta kesepakatan terkait penjualan bahan bakar Rusia menuai kritik dari pihak Ukraina.
China Berpotensi Memainkan Peran Diplomatik
Apabila terlaksana, pertemuan Putin, Trump, dan Xi akan menjadi forum penting yang mempertemukan tiga negara dengan pengaruh besar dalam politik dan keamanan global.
Bagi China, pertemuan tersebut dapat memperkuat posisinya sebagai aktor diplomatik yang berupaya memainkan peran dalam penyelesaian konflik internasional. Namun, keterlibatan Beijing belum berarti bahwa kesepakatan mengenai perang Ukraina akan tercapai.
Sejumlah persoalan mendasar masih harus diselesaikan, termasuk penghentian pertempuran, jaminan keamanan Ukraina, dan masa depan wilayah yang disengketakan.
Hingga Selasa (20/10/2026), rencana pertemuan tiga pemimpin itu masih dalam tahap pembahasan. Belum ada kepastian apakah pertemuan akan terlaksana maupun apakah konflik Rusia-Ukraina akan menjadi agenda utama.
Sumber: CNN Indonesia, Reuters
