TOKYO – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi genap satu tahun menjabat pada 21 Oktober 2026. Sebagai perempuan pertama yang memimpin pemerintahan Jepang, Takaichi berhasil melewati berbagai tantangan politik dan bahkan membawa Partai Demokrat Liberal (LDP) meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum pada Februari lalu. Namun, perjalanan politiknya memasuki tahun kedua diperkirakan tidak akan berjalan mudah.
Sejak dilantik pada Oktober 2025, Takaichi dikenal sebagai politikus konservatif dengan gaya komunikasi yang lugas. Pendekatan tersebut membuatnya mendapatkan dukungan dari sebagian masyarakat Jepang, terutama melalui sikap tegasnya dalam menghadapi persoalan keamanan dan hubungan luar negeri.
Di bawah kepemimpinannya, LDP berhasil memperkuat posisi politik setelah sebelumnya menghadapi berbagai persoalan internal. Kemenangan besar dalam pemilihan majelis rendah pada Februari 2026 turut memperkuat kedudukan Takaichi di pemerintahan.
Meski demikian, sejumlah persoalan mulai menguji kepemimpinannya. Salah satu tantangan terbaru datang dari kontroversi Menteri Pertanian Kazuo Yana, yang menuai kritik setelah muncul laporan mengenai pernyataannya terkait pemotongan anggaran pembangunan jalan di daerah yang tidak mendukungnya.
Takaichi sempat membela menterinya tersebut sebelum tekanan politik semakin meningkat. Pada 14 Oktober 2026, Yana akhirnya mengundurkan diri dan menjadi menteri pertama dalam kabinet Takaichi yang meninggalkan jabatan akibat kontroversi.
Selain persoalan kabinet, pemerintahannya juga menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup. Masyarakat Jepang masih merasakan dampak inflasi, sementara pemerintah dituntut menghadirkan kebijakan yang dapat meringankan beban rumah tangga.
Takaichi mendorong rencana pengurangan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari 8 persen menjadi 1 persen selama dua tahun. Pemerintah juga merencanakan bantuan tunai bagi rumah tangga yang mengalami kesulitan ekonomi.
Namun, rencana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sumber pendanaan. Takaichi menyatakan kebijakan itu tidak akan mengharuskan pemerintah menambah utang, tetapi penjelasan mengenai mekanisme pembiayaannya masih menjadi perhatian sejumlah pengamat.
Di bidang politik dan sosial, Takaichi juga menghadapi kritik terkait sistem suksesi kekaisaran Jepang yang masih mengutamakan garis keturunan laki-laki. Sikap pemerintahannya terhadap isu tersebut dinilai tidak sejalan dengan dukungan sebagian masyarakat terhadap kemungkinan seorang perempuan menjadi kaisar.
Sementara itu, kebijakan luar negeri Takaichi menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga hubungan dengan China. Ketegangan kedua negara meningkat akibat perbedaan pandangan mengenai Taiwan dan persoalan keamanan regional.
Di sisi lain, Takaichi berupaya mempertahankan hubungan erat Jepang dengan Amerika Serikat. Ia juga mendorong penguatan pertahanan nasional untuk menghadapi ancaman keamanan, termasuk yang berkaitan dengan China dan Korea Utara.
Gaya kepemimpinannya yang cenderung mengandalkan keputusan sendiri turut menjadi perhatian. Sejumlah pengamat menilai bahwa hubungan dengan anggota partai, mitra koalisi, serta kelompok bisnis perlu terus dijaga agar agenda pemerintahannya dapat berjalan dengan baik.
Tantangan lainnya adalah mempertahankan dukungan publik. Sejumlah laporan jajak pendapat terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap pemerintahannya berada di sekitar 50 persen, lebih rendah dibandingkan periode awal kepemimpinannya. Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan dukungan yang cukup berarti bagi seorang pemimpin Jepang setelah satu tahun menjabat.
Memasuki tahun kedua, Takaichi menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan inflasi global dan pelaksanaan janji-janji politiknya. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat ekonomi Jepang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keberlanjutan kepemimpinan Takaichi akan bergantung pada kemampuannya mengatasi persoalan ekonomi, menjaga kepercayaan publik, mengelola hubungan di dalam koalisi pemerintahan, serta mempertahankan stabilitas hubungan luar negeri.
Dengan berbagai pencapaian dan tantangan tersebut, tahun kedua menjadi periode penting bagi Takaichi untuk membuktikan apakah dukungan politik yang telah dibangunnya dapat bertahan dalam menghadapi tekanan domestik maupun internasional.
Sumber: CNN Indonesia
