MAGELANG – Bagian puncak Candi Borobudur, Jawa Tengah, kembali menjalani pemugaran setelah terakhir kali ditangani secara menyeluruh pada era kolonial Belanda, sekitar 115 tahun lalu. Pemugaran ini dilakukan untuk menjaga kestabilan struktur sekaligus mempertahankan keaslian salah satu warisan budaya dunia tersebut.
Dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (15/10/2026), Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) mulai melakukan pemugaran bagian yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur. Pekerjaan ini dilakukan setelah pemeriksaan teknis menemukan sejumlah kerusakan pada bagian puncak stupa induk.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan, pemugaran diperlukan setelah ditemukan pergeseran susunan batu, rongga, rekahan, serta pelapukan pada bagian atas bangunan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena bagian puncak memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan struktur Mahastupa.
Pemugaran besar pertama Candi Borobudur berlangsung pada 1907–1911 di bawah pimpinan arkeolog Belanda, Theodoor van Erp. Setelah itu, pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973–1983 melalui kerja sama pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Gunakan Teknologi untuk Periksa Kerusakan
Dalam proses pemugaran kali ini, tim ahli memanfaatkan teknologi untuk memeriksa kondisi struktur yang sulit dijangkau. Beberapa metode yang digunakan meliputi pemindaian ground penetrating radar (GPR) dengan bantuan drone, pengujian ultrasonik, serta hammer test.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi kondisi bagian dalam dan kekuatan material batu sebelum tindakan konservasi dilakukan. Hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan.
Fadli menegaskan, pemugaran dilakukan dengan mengutamakan penggunaan material asli Candi Borobudur. Setiap batu yang ditangani didokumentasikan dan diberi nomor agar dapat dipasang kembali sesuai posisi semula.
Hingga proses pemugaran berlangsung, Kementerian Kebudayaan menyatakan belum ada batu yang diganti dengan material baru. Pendekatan ini diterapkan untuk mempertahankan keaslian bangunan sesuai prinsip pelestarian cagar budaya.
Pelapukan Batu Jadi Perhatian
Selain memperkuat struktur yasti, tim konservasi juga menangani pelapukan dan penggaraman pada batu Mahastupa. Penggaraman merupakan kondisi munculnya endapan garam pada permukaan batu yang dapat berkaitan dengan pergerakan air dan kandungan garam di dalam material.
Paparan cuaca dalam jangka panjang serta perubahan kondisi lingkungan turut menjadi tantangan dalam menjaga ketahanan batu andesit penyusun Candi Borobudur.
Karena itu, proses konservasi tidak hanya berfokus pada perbaikan bagian yang mengalami kerusakan, tetapi juga pada upaya menjaga material agar tetap bertahan dalam jangka panjang.
Pemugaran ini melibatkan tenaga ahli dari berbagai bidang, termasuk arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi. Seluruh tahapan dilakukan melalui pemeriksaan dan analisis sebelum tindakan lanjutan ditentukan.
Wisata Borobudur Tetap Dibuka
Meski pemugaran berlangsung, kawasan Candi Borobudur tetap dibuka untuk wisatawan dengan penyesuaian jalur kunjungan demi menjaga keselamatan pengunjung dan pekerja.
Pengunjung reguler dan peserta kunjungan keagamaan atau pilgrim dapat naik hingga lantai 8 atau teras 1. Sementara itu, pengunjung program matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) masih dapat mengakses hingga lantai 9 atau teras 2.
Adapun pelataran utara ditutup sementara karena digunakan sebagai zona kerja pemugaran. Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026, dengan kemungkinan penyesuaian sesuai kondisi teknis di lapangan.
Pemugaran bagian puncak ini menjadi bagian penting dari upaya pelestarian Candi Borobudur agar tetap terjaga bagi generasi mendatang. Pemerintah berharap penanganan berbasis kajian ilmiah dapat mempertahankan keaslian struktur sekaligus memperkuat ketahanan bangunan menghadapi tantangan lingkungan.
Sumber: CNN Indonesia
