NASHVILLE — Kepala Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Amerika Serikat, Frank Strada, mengundurkan diri setelah eksekusi mati terhadap narapidana Christa Pike gagal. Pike tetap hidup setelah mendapat dua dosis suntikan mematikan dalam proses eksekusi pada 30 September 2026.
Strada dijadwalkan meninggalkan jabatannya pada Oktober. Pengunduran diri tersebut disampaikan ketika pemerintah Tennessee tengah melakukan penyelidikan independen untuk mengetahui penyebab kegagalan eksekusi.
Gubernur Tennessee Bill Lee mengatakan keputusan Strada untuk mundur merupakan langkah yang tepat di tengah proses pemeriksaan. Sementara itu, Strada menyatakan bahwa pihaknya meyakini prosedur eksekusi telah dijalankan sesuai protokol yang berlaku, tetapi ia menilai pengunduran dirinya diperlukan agar proses evaluasi dapat berjalan.
Eksekusi Gagal, Napi Dilarikan ke Rumah Sakit
Pike, 50 tahun, dijatuhi hukuman mati atas keterlibatannya dalam pembunuhan Colleen Slemmer pada 1995 ketika Pike masih berusia 18 tahun.
Dalam proses eksekusi, Pike menerima dua dosis pentobarbital, obat yang digunakan untuk menyebabkan kematian. Namun, bukannya meninggal, Pike tetap bernapas dan kemudian harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Pengacara Pike menyebut terdapat masalah pada pemasangan jalur infus. Mereka menduga obat tidak masuk sebagaimana mestinya ke dalam aliran darah, melainkan masuk ke jaringan tubuh di sekitar lokasi suntikan. Pike dilaporkan mengalami rasa sakit hebat serta muncul luka lepuh dan perubahan warna pada lengannya.
Beberapa hari setelah eksekusi yang gagal tersebut, kondisi Pike dilaporkan masih serius. Pengacaranya mengatakan Pike tidak sadarkan diri dan menggunakan ventilator di rumah sakit.
Semua Eksekusi Tennessee Dihentikan
Kegagalan tersebut membuat Gubernur Bill Lee memerintahkan peninjauan independen terhadap pelaksanaan eksekusi. Pemerintah Tennessee juga menghentikan seluruh eksekusi mati yang telah dijadwalkan di negara bagian tersebut hingga akhir 2026.
Kasus Pike menjadi sorotan karena kegagalan terjadi setelah obat eksekusi telah diberikan. Persoalan tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai prosedur, keamanan, serta keandalan metode suntik mati yang digunakan sejumlah negara bagian AS.
Pemerintah Tennessee kini masih menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan dua dosis obat tersebut tidak mengakibatkan kematian Pike.
Sumber: CNN Indonesia