PARIS – Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah di Prancis terus meluas. Para siswa turun ke jalan bukan hanya memprotes kebijakan pendidikan, tetapi juga mengeluhkan kondisi sekolah yang dinilai sudah memprihatinkan, mulai dari ruang kelas yang terlalu penuh hingga bangunan yang rusak dan dipenuhi tikus.
Salah satu keluhan datang dari pelajar di Saint-Denis, kawasan di luar Paris. Seorang demonstran mengatakan kondisi sekolah menengah di wilayah tersebut sangat buruk. Atap sekolah mengalami kerusakan, air masuk ke bagian dinding, dan tikus disebut banyak ditemukan di lingkungan sekolah.
Masalah fasilitas bukan satu-satunya persoalan. Para siswa juga menyoroti kelas yang terlalu padat, kekurangan meja dan kursi, guru yang absen tetapi tidak mendapatkan pengganti, serta kurangnya tenaga pendukung seperti perawat dan pekerja sosial. Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Keluhan lainnya berkaitan dengan lamanya jam belajar dan kesenjangan fasilitas antara sekolah di kawasan kaya dan wilayah kurang mampu. Sejumlah siswa menilai pemerintah tidak cukup berinvestasi untuk memperbaiki kondisi sekolah, terutama di kawasan pinggiran Paris.
Aksi yang awalnya muncul dari persoalan kekurangan guru di sebuah sekolah di pinggiran Paris kemudian berkembang menjadi gerakan nasional. Para siswa mulai melakukan pemblokiran sekolah dan demonstrasi di berbagai kota, termasuk Paris, Marseille, Strasbourg, Lyon, Nantes, dan Bordeaux.
Jumlah peserta aksi pun semakin besar. Pada Selasa (6/10/2026), sekitar 256.000 orang dilaporkan ikut melakukan demonstrasi di berbagai wilayah Prancis menurut data Kementerian Dalam Negeri. Ratusan sekolah juga terdampak aksi tersebut.
Situasi demonstrasi kemudian berkembang menjadi bentrokan di sejumlah lokasi. Polisi dan pengunjuk rasa terlibat kericuhan, sementara penggunaan alat pengendalian massa oleh aparat mendapat sorotan setelah seorang remaja mengalami cedera serius. Pemerintah Prancis kemudian menghentikan sementara penggunaan granat kejut dalam menghadapi aksi pelajar.
Pemerintah Prancis sendiri mengakui sejumlah keluhan pelajar memiliki dasar. Perdana Menteri Sébastien Lecornu telah meminta pemerintah menyiapkan langkah untuk memperbaiki kondisi gedung sekolah, memastikan kegiatan belajar berlangsung, serta melakukan penataan terhadap sistem pendidikan dan jadwal sekolah.
Namun, para pelajar masih menuntut tindakan yang lebih konkret. Bagi mereka, persoalan pendidikan bukan sekadar soal kebijakan di atas kertas, melainkan kondisi sehari-hari di ruang kelas. Atap bocor, kelas yang sesak, kekurangan guru hingga keberadaan tikus menjadi gambaran yang mereka gunakan untuk menunjukkan buruknya fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah Prancis.
Sumber: CNN Indonesia, Reuters
