Seo Services

Slogan “Bismillah, Gelap” Viral di Demo Prancis, Berawal dari Dugaan Penyusupan Polisi

 

PARIS – Slogan unik berbahasa Arab dan Prancis, “Bismillah, c’est les ténèbres”, menjadi perbincangan luas di tengah gelombang demonstrasi pelajar di Prancis. Ungkapan yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Dengan nama Tuhan, inilah kegelapan” itu ramai digunakan pada poster aksi, video parodi, hingga media sosial.

Popularitas slogan tersebut bermula dari sebuah tangkapan layar percakapan di aplikasi Snapchat yang beredar pada awal Oktober 2026. Sejumlah pelajar menduga pesan itu berasal dari seseorang yang berusaha menyusup ke grup percakapan mereka untuk memperoleh informasi mengenai rencana demonstrasi dan blokade sekolah. Namun, dugaan tersebut belum terbukti secara independen.


Berawal dari Pesan Snapchat yang Dianggap Janggal


Pesan yang menjadi asal-usul slogan itu menggunakan nama akun “Mamadou”. Pengguna tersebut disebut meminta dimasukkan ke grup koordinasi blokade sekolah dengan mencampurkan sejumlah ungkapan bahasa Arab dan bahasa Prancis.

Susunan kalimatnya dinilai janggal oleh para pelajar. Perpaduan bahasa, penggunaan istilah slang, serta simbol bendera Aljazair dalam pesan tersebut memunculkan kecurigaan bahwa pengirimnya sedang mencoba meniru gaya komunikasi anak muda dari kawasan pinggiran kota Prancis.

Sejumlah pelajar kemudian menduga akun tersebut digunakan oleh polisi yang menyamar sebagai siswa untuk masuk ke dalam grup privat. Grup-grup itu diketahui menjadi salah satu sarana koordinasi aksi dan pertukaran informasi mengenai lokasi blokade.

Meski demikian, identitas pemilik akun tersebut belum terverifikasi. Belum ada bukti independen yang memastikan bahwa pesan itu memang dikirim oleh anggota kepolisian. Karena itu, dugaan penyusupan tersebut masih harus diperlakukan sebagai klaim yang beredar di kalangan pelajar, bukan fakta yang telah dipastikan.


Slogan Berubah Menjadi Bahan Sindiran


Alih-alih berhenti sebagai percakapan yang mencurigakan, frasa “Bismillah, c’est les ténèbres” justru berkembang menjadi bahan lelucon di kalangan pelajar. Mereka menggunakan ungkapan itu untuk membuat video parodi, menuliskannya pada poster, dan menyebarkannya melalui berbagai platform media sosial.

Dalam bahasa Arab, “bismillah” berarti “dengan nama Allah” dan lazim diucapkan sebelum seseorang memulai suatu kegiatan. Sementara itu, “c’est les ténèbres” dalam bahasa Prancis secara harfiah berarti “inilah kegelapan”.

Ketika kedua bagian tersebut digabungkan, hasilnya terdengar tidak lazim dan tidak memiliki makna yang jelas dalam konteks percakapan awal. Justru kejanggalan itulah yang membuat slogan tersebut mudah diingat dan menjadi bahan olok-olok.

Para pelajar menggunakan frasa itu untuk menyindir seseorang yang mereka anggap gagal meniru bahasa sehari-hari anak muda. Pada saat yang sama, slogan tersebut menjadi simbol kritik terhadap dugaan pengawasan dan penyusupan ke dalam ruang komunikasi kelompok demonstran.

Fenomena ini juga menyoroti persoalan stereotip sosial. Penggunaan bahasa Arab, slang, dan simbol tertentu dalam pesan tersebut dianggap sebagian pelajar sebagai gambaran karikatural tentang anak muda dari kawasan pinggiran kota, terutama komunitas yang memiliki latar belakang imigran.


Menyebar ke Luar Prancis


Popularitas slogan itu tidak terbatas di Prancis. Menurut laporan media internasional, ungkapan tersebut turut muncul dalam aksi pelajar di Belgia dan Italia. Slogan itu juga beredar melalui video parodi serta digunakan sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan pelajar Prancis.

Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, juga dilaporkan mengulang slogan tersebut ketika mengunjungi pelajar yang melakukan aksi di kawasan sekitar Paris pada Oktober 2026.

Di sejumlah tempat, frasa itu digunakan bukan sebagai pernyataan politik yang memiliki makna harfiah, melainkan sebagai lelucon dan simbol solidaritas. Penyebarannya memperlihatkan bagaimana sebuah pesan singkat dari percakapan digital dapat berubah menjadi slogan gerakan sosial dalam waktu relatif singkat.


Demonstrasi Pelajar Dipicu Berbagai Persoalan Pendidikan


Slogan tersebut muncul ketika mobilisasi pelajar di Prancis tengah meluas. Gerakan yang bermula di Créteil, kawasan tenggara Paris, pada 18 September 2026 itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah.

Aksi para pelajar berkaitan dengan sejumlah persoalan pendidikan, termasuk jam belajar yang panjang, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan sekolah yang dinilai kurang memadai, serta ketidakhadiran guru.

Sebagian peserta aksi juga menyoroti ketimpangan yang mereka anggap lebih dirasakan oleh pelajar dari keluarga berpenghasilan rendah dan komunitas minoritas.

Dalam konteks tersebut, slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” berkembang melampaui makna kata-katanya. Ungkapan itu menjadi cara bagi sebagian pelajar untuk menyampaikan sindiran, mengekspresikan kecurigaan, dan membangun identitas bersama di tengah aksi.

Meski demikian, popularitas slogan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya operasi penyusupan polisi. Hingga laporan media internasional yang tersedia pada 19 Oktober 2026, identitas pengirim pesan Snapchat itu belum dikonfirmasi secara independen, sementara pihak kepolisian dan Kementerian Dalam Negeri Prancis belum memberikan penjelasan yang memastikan dugaan tersebut.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.