Seo Services

Ferrari dan BMW Ikuti Tesla Beralih ke Aluminium, Harga Tembaga yang Melonjak Ubah Strategi Industri Otomotif



LONDON – Produsen mobil mewah Ferrari dan BMW mulai menggunakan kabel berbahan aluminium pada sejumlah model kendaraan terbaru mereka. Langkah ini mengikuti jejak Tesla serta sejumlah produsen kendaraan listrik asal China yang terlebih dahulu beralih dari tembaga ke aluminium sebagai material utama sistem kelistrikkan kendaraan.

Menurut laporan Reuters, peralihan tersebut didorong oleh melonjaknya harga tembaga di pasar global, sementara aluminium menawarkan harga yang jauh lebih murah dan bobot yang lebih ringan. Tren ini diperkirakan akan mengurangi 2% permintaan tembaga dunia pada sekitar tahun 2026, bahkan berpotensi meningkat hingga 6% pada tahun 2030, berdasarkan proyeksi analis JPMorgan.

Harga aluminium saat ini hanya sekitar US$3.100 per metrik ton, atau sekitar seperempat dari harga tembaga. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan mulai mempertimbangkan aluminium sebagai alternatif yang lebih ekonomis, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan tembaga untuk proyek energi terbarukan, jaringan listrik, dan pusat data (data center).


Ferrari Utamakan Bobot Ringan

Ferrari mengungkapkan bahwa penggunaan aluminium bukan semata-mata karena alasan biaya, tetapi juga untuk meningkatkan performa kendaraan.

Pabrikan asal Italia itu mulai menggunakan kabel aluminium pada mobil sport hybrid 296 sejak tahun lalu. Materi yang sama kemudian diterapkan pada Luce, mobil listrik pertama Ferrari yang diluncurkan beberapa waktu lalu.

Perusahaan menyatakan penggunaan aluminium mampu mengurangi bobot total kabel hingga 20 persen, sehingga kendaraan menjadi lebih ringan dan efisien.

"Kami tidak memilih aluminium karena lebih murah, tetapi karena memberikan performa yang lebih baik," kata Dario Esposito, pejabat komunikasi Ferrari, sebagaimana dikutip Reuters.

Selain kabel, Ferrari sebelumnya juga telah menggunakan aluminium pada bodi, sasis, dan mesin kendaraan sebagai bagian dari strategi mengurangi berat mobil tanpa mengorbankan performa.


BMW dan Tesla Lebih Dulu Mengadopsi

BMW sebenarnya telah menggunakan konduktor aluminium sejak 2011 pada seri mobil kompaknya. Seiring berkembangnya kendaraan hybrid dan listrik, perusahaan Jerman tersebut terus memperluas penggunaan aluminium pada sistem kelistrikan bertegangan tinggi maupun rendah.

Teknologi eDrive terbaru BMW kini memanfaatkan aluminium dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Sementara itu, Tesla dikenal sebagai salah satu pelopor penggunaan aluminium secara luas pada kendaraan listrik modern. Selain memanfaatkan aluminium untuk struktur bodi melalui teknologi pengecoran raksasa (gigacasting), Tesla juga mulai menggunakan kabel aluminium pada Model Y sejak 2019 dan kemudian memperluas penerapannya pada Cybertruck.

Reuters juga melaporkan bahwa Stellantis, grup otomotif yang menyebutkan merek seperti Jeep, Peugeot, Citroën, Fiat, dan Opel, telah mulai mengganti kabel tembaga dengan aluminium pada sejumlah model kendaraan, meskipun perusahaan belum memberikan komentar resmi.


Produsen Kendaraan Listrik China Memimpin Perubahan

Peralihan menuju aluminium berlangsung lebih cepat di China. Pemerintah Tiongkok sejak tahun 2025 mendorong industri menggunakan aluminium sebagai pengganti tembaga di sejumlah sektor strategis.

Sejumlah produsen kendaraan listrik seperti AVATR, XPeng, dan Xiaomi telah mengadopsi kabel aluminium pada kendaraan mereka. Langkah ini dinilai penting untuk memangkas biaya produksi di tengah persaingan harga yang semakin ketat di pasar mobil listrik Tiongkok.

Analis dari lembaga penelitian Zhuochuang memperkirakan sekitar 25–30 persen komponen berbahan tembaga di sektor otomotif, kelistrikan, dan peralatan rumah tangga di China dapat digantikan oleh aluminium sebelum tahun 2030.


Murah, Ringan, tetapi Ada Tantangan

Meski lebih murah dan ringan, aluminium memiliki daya hantar listrik sekitar 61 persen dibandingkan tembaga. Oleh karena itu, kabel aluminium harus dibuat lebih besar agar mampu menghantarkan arus listrik yang sama.

Selain itu, proses produksi aluminium membutuhkan energi yang lebih besar sehingga menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibandingkan pengolahan tembaga. Faktor tersebut menjadi salah satu pertimbangan perusahaan sebelum memutuskan melakukan substitusi material.

Namun demikian, ketika rasio harga tembaga terhadap aluminium mencapai lebih dari 3,5 kali, penggunaan aluminium dinilai menjadi pilihan yang jauh lebih ekonomis. Saat rasio ini telah berada di atas 4,2 kali, sehingga semakin banyak perusahaan mulai mempercepat transisi ke material alternatif tersebut.


Tren Diperkirakan Terus Berkembang

Analis menilai penggunaan aluminium tidak hanya akan meningkat di industri otomotif, tetapi juga pada industri kabel listrik, pendingin udara, serta infrastruktur energi. Jika tren ini terus berlanjut, permintaan global terhadap tembaga diperkirakan akan mengalami perlambatan, sementara kebutuhan aluminium akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Perubahan strategi yang dilakukan Ferrari, BMW, Tesla, dan sejumlah produsen mobil listrik China menunjukkan bahwa industri otomotif kini tidak hanya berlomba menghadirkan kendaraan yang lebih efisien, tetapi juga mencari material yang mampu menekan biaya produksi tanpa mengurangi kinerja kendaraan.

Sumber: Reuters

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.