Kantong dan Kemasan Plastik Fleksibel Terancam Tergusur, Regulasi Baru Global Paksa Industri Berbenah
Masa depan kantong plastik, plastik pembungkus (wrap), dan kemasan fleksibel seperti sachet diperkirakan semakin pendek seiring gelombang regulasi lingkungan yang mulai diterapkan di berbagai negara. Industri kini menghadapi tekanan besar untuk merancang ulang kemasan agar lebih mudah didaur ulang serta meningkatkan penggunaan bahan daur ulang dalam produk mereka.
Kemasan plastik fleksibel selama ini menjadi pilihan produsen karena ringan, murah, dan mampu menjaga kualitas produk, terutama makanan, minuman, serta kebutuhan rumah tangga. Namun, jenis kemasan tersebut juga menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan terbesar karena sangat sulit didaur ulang.
Menurut laporan Reuters, plastik fleksibel menyumbang sekitar 58% dari seluruh kemasan plastik dunia, tetapi kurang dari 4% limbahnya berhasil masuk ke sistem daur ulang formal. Sebagian besar sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau mencemari lingkungan dan lautan. Fleksibel dan plastik multilapis bahkan diperkirakan menyumbang sekitar 80% kebocoran sampah plastik ke laut.
Regulasi Baru Mendorong Perubahan
Sejumlah pemerintah mulai memberlakukan kebijakan yang lebih ketat terhadap penggunaan plastik fleksibel.
Di kawasan Eropa, mulai tahun 2030 berbagai jenis kemasan plastik, termasuk kemasan makanan, diwajibkan mengandung persentase minimum bahan plastik hasil daur ulang. Inggris juga akan mulai mewajibkan pemerintah daerah mengumpulkan kantong dan plastik film dari rumah tangga melalui sistem daur ulang mulai 2027.
Sementara itu, negara bagian California di Amerika Serikat menargetkan tingkat daur ulang kemasan plastik sekali pakai mencapai 65% pada 2032, sehingga mendorong perusahaan mempercepat investasi pada teknologi pengolahan limbah plastik.
Perusahaan Besar Mulai Beralih
Menghadapi tekanan regulasi tersebut, berbagai perusahaan multinasional mulai mengembangkan solusi baru.
Produsen barang konsumsi seperti Unilever, Nestlé, Mars, PepsiCo, dan Bel Group mengembangkan berbagai alternatif kemasan yang lebih mudah didaur ulang, termasuk penggunaan bahan berbasis kertas dengan lapisan pelindung khusus.
Meski demikian, solusi tersebut belum sepenuhnya ideal. Kemasan berbahan kertas masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketahanan terhadap air, minyak, dan oksigen tanpa mengurangi kemampuan untuk didaur ulang. Di sisi lain, plastik berbasis hayati (bio-based plastic) juga masih menghadapi keterbatasan karena minimnya fasilitas pengomposan dalam skala besar.
Teknologi Daur Ulang Masih Menjadi Tantangan
Industri juga mulai berinvestasi pada teknologi daur ulang yang lebih canggih.
Selain metode mekanis yang selama ini digunakan, berbagai perusahaan tengah mengembangkan teknologi seperti pirolisis, gasifikasi, hingga pelarutan polimer (dissolution) untuk mengolah plastik yang sulit didaur ulang.
Namun, teknologi tersebut masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari biaya operasional yang tinggi, kebutuhan energi besar, hingga belum adanya kepastian regulasi yang mampu menjamin kelayakan investasi jangka panjang. Akibatnya, harga plastik hasil daur ulang masih jauh lebih mahal dibandingkan plastik baru berbahan baku minyak bumi.
Infrastruktur Menjadi Kendala Utama
Para pelaku industri menilai persoalan utama bukan hanya teknologi, tetapi juga infrastruktur.
Banyak negara belum memiliki sistem pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan limbah plastik fleksibel yang memadai. Bahkan ketika masyarakat berhasil mengumpulkan limbah plastik tersebut, kapasitas fasilitas daur ulang sering kali belum mampu mengolah seluruh volume yang tersedia.
Sejumlah organisasi industri di Inggris maupun Amerika Serikat kini mendorong pemberian subsidi operasional serta penerapan skema extended producer responsibility (EPR) agar biaya pengelolaan limbah dapat ditanggung bersama oleh produsen kemasan.
Menuju Era Baru Kemasan
Meskipun tantangan masih besar, tren global menunjukkan bahwa industri kemasan tengah memasuki masa transisi. Kombinasi regulasi pemerintah, tekanan konsumen, serta tuntutan investor terhadap praktik bisnis berkelanjutan diperkirakan akan mempercepat pengembangan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Dalam beberapa tahun ke depan, kantong plastik, plastik pembungkus, dan kemasan sachet yang selama puluhan tahun menjadi andalan industri kemungkinan akan semakin tergantikan oleh desain kemasan baru yang lebih mudah didaur ulang dan memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah.
