Seo Services

Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Hampir 1.500 Jiwa, Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu Cari Korban Selamat



Operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela terus berlangsung hingga Minggu (28/6). Tim penyelamat dari berbagai negara masih berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih hidup di tengah reruntuhan bangunan, sementara jumlah korban tewas terus bertambah mendekati 1.500 orang.

Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada Rabu lalu telah menyebabkan kehancuran besar, terutama di negara bagian La Guaira yang berjarak sekitar 40 kilometer di utara ibu kota Caracas. Puluhan bangunan runtuh menjadi puing-puing, sementara ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah sementara Venezuela melaporkan korban meninggal dunia telah mencapai hampir 1.500 orang. Selain itu, sedikitnya 3.150 orang mengalami luka-luka, lebih dari 12.700 warga mengungsi, dan 774 bangunan dilaporkan hancur akibat bencana tersebut.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan bahwa operasi pencarian masih akan terus dilakukan selama masih terdapat harapan menemukan korban dalam keadaan hidup.

"Upaya penyelamatan dan pemulihan masih berlangsung. Hari ini kami masih berhasil menemukan korban selamat sehingga operasi belum dihentikan. Kami akan selalu menjaga harapan," ujar Rodriguez.

Pemerintah juga membentuk komisi khusus untuk menilai kelayakan bangunan yang masih berdiri pascagempa. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak diperpanjang liburnya selama satu pekan lagi. Di sisi lain, pasokan listrik di La Guaira dilaporkan telah pulih sekitar 75 persen.


Bantuan Internasional Berdatangan


Lebih dari 2.600 personel penyelamat dari berbagai negara telah tiba di Venezuela untuk membantu proses evakuasi. Kehadiran mereka membawa peralatan berat, anjing pelacak, serta teknologi pencarian korban yang sebelumnya sangat terbatas.


Sebelum bantuan internasional datang, keluarga korban bersama para relawan harus menggali reruntuhan secara manual karena minimnya alat berat dan lambatnya respons pemerintah. Kondisi tersebut diperparah oleh ratusan gempa susulan yang terus mengguncang kawasan terdampak.

Meski demikian, pemerintah melaporkan sedikitnya 33 orang berhasil diselamatkan hingga Sabtu malam, termasuk beberapa anak-anak.


Puluhan Ribu Warga Masih Belum Diketahui Nasibnya


Harapan masih tersisa meskipun waktu terus berjalan. Sebuah situs yang dikelola kelompok oposisi mencatat hampir 50.000 orang masih belum diketahui keberadaannya pada Minggu, turun dari sekitar 55.000 orang sehari sebelumnya.


Pada Minggu pagi, tim penyelamat berhasil mengeluarkan seorang ayah beserta anaknya dalam keadaan hidup dari reruntuhan sebuah bangunan yang ambruk. Keberhasilan tersebut menjadi secercah harapan di tengah pencarian yang semakin sulit.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa peluang menemukan korban hidup semakin kecil setelah melewati 72 jam sejak gempa terjadi. Pemimpin tim penyelamat Swiss, Sebastian Eugster, menjelaskan bahwa terdapat "jendela emas" sekitar tiga hari untuk menyelamatkan korban yang masih hidup. Timnya yang beranggotakan 80 personel berhasil menemukan beberapa tanda kehidupan berkat bantuan delapan anjing pelacak, namun beberapa korban tidak sempat dievakuasi sebelum akhirnya meninggal dunia.


Anak-Anak Berhasil Diselamatkan


Sejumlah operasi penyelamatan dramatis berhasil menyelamatkan beberapa anak dari bawah reruntuhan. Tim penyelamat Amerika Serikat berhasil mengevakuasi seorang bayi yang masih hidup dari reruntuhan bangunan pada Sabtu. Rekaman penyelamatan tersebut memperlihatkan petugas membawa bayi yang terus menangis keluar dari puing-puing.

Sementara itu, tim penyelamat Kolombia berhasil menemukan seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bernama Moises yang terjebak sekitar tiga meter di bawah reruntuhan. Ia ditemukan menggunakan alat pemindai khusus dan dievakuasi dengan kondisi lengan patah. Ibunya dan saudara perempuannya dilaporkan meninggal dunia akibat gempa.

Tim penyelamat Meksiko juga berhasil menyelamatkan bocah berusia 11 tahun lainnya dari bangunan yang runtuh di kota Caraballeda.


Ancaman Korban Bertambah


Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban jiwa masih dapat meningkat secara signifikan. Berdasarkan analisis dampak gempa, jumlah korban meninggal berpotensi melebihi 10.000 orang, menjadikannya salah satu bencana gempa paling mematikan di Amerika Latin dalam satu abad terakhir.


Selain korban manusia, gempa juga mengganggu aktivitas ekonomi Venezuela. Kilang minyak terbesar di negara tersebut, Amuay yang memiliki kapasitas produksi 645.000 barel per hari, menghentikan operasinya akibat pemadaman listrik besar di negara bagian Falcon.


Dukungan Dunia Internasional Mengalir


Dukungan internasional terus berdatangan bagi Venezuela. Paus Leo dalam doa Angelus di Vatikan menyampaikan belasungkawa kepada para korban serta mengapresiasi kerja keras seluruh tim penyelamat yang bertugas di lokasi bencana.

Pemerintah Amerika Serikat juga dikabarkan tengah menyiapkan paket bantuan baru senilai ratusan juta dolar AS, di luar komitmen bantuan sebelumnya sebesar 150 juta dolar AS.

Sementara itu, tokoh oposisi Venezuela sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, menyatakan akan kembali ke negaranya untuk membantu proses pemulihan pascabencana setelah sebelumnya berada di luar negeri.

Operasi pencarian diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, meski peluang menemukan korban selamat semakin menipis. Ribuan personel penyelamat bersama relawan terus bekerja tanpa henti di tengah reruntuhan, berharap masih ada nyawa yang dapat diselamatkan dari salah satu bencana alam paling mematikan yang pernah melanda Venezuela.

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.