PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Pemerintah Kota Pontianak mengalihkan kegiatan belajar mengajar bagi siswa PAUD, TK, SD, dan SMP dari tatap muka menjadi pembelajaran daring karena kualitas udara memburuk.
Kebijakan tersebut diberlakukan mulai Senin (10/8/2026) dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara. Pemerintah kota menyebut pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan apabila kondisi udara membaik dan berada pada kategori sedang.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan kabut asap paling terasa pada malam hingga pagi hari. Berdasarkan pemantauan kualitas udara di Pontianak Tenggara, kondisi udara pada malam hari sempat masuk kategori kurang sehat. Partikel asap disebut lebih terasa di permukaan ketika tekanan udara pada malam hari meningkat.
Selain mengganggu aktivitas pendidikan, kabut asap juga mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Pontianak mencatat adanya kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sekitar 5%. Dinas Kesehatan diminta terus memantau perkembangan kasus tersebut untuk mengetahui dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Pemkot Pontianak juga meminta puskesmas dan rumah sakit meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya warga yang mengalami gangguan pernapasan. Fasilitas kesehatan diminta menyiapkan kebutuhan pelayanan, termasuk oksigen bagi pasien yang membutuhkan.
Bagi siswa, pembelajaran daring menjadi langkah sementara untuk mengurangi paparan asap. Pemerintah juga mengimbau anak-anak dan kelompok rentan untuk menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah serta mengurangi kegiatan luar ruangan, khususnya pada malam dan pagi hari.
Kondisi kabut asap di Pontianak tidak hanya dipengaruhi oleh titik kebakaran di dalam kota. Asap dari kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, seperti Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak, turut terbawa angin menuju Pontianak.
Pemerintah daerah saat ini juga terus melakukan penanganan terhadap titik-titik api. Pemadaman dilakukan untuk mencegah kebakaran semakin meluas sekaligus mengurangi sumber asap yang memperburuk kualitas udara.
Edi mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau membuat kebakaran sulit dikendalikan apabila sudah meluas. Pemerintah juga akan melakukan investigasi terhadap lahan yang terbakar dan memproses secara hukum apabila ditemukan unsur kesengajaan.
Untuk sementara, keselamatan siswa dan masyarakat menjadi prioritas. Pembelajaran daring dipilih sebagai langkah pencegahan sambil menunggu kualitas udara kembali membaik. Pemerintah berharap penanganan karhutla dapat segera mengurangi kabut asap sehingga kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Sumber: CNN Indonesia