Jakarta – Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menggelar latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield (UFS) pada 17–27 Agustus 2026. Latihan ini tidak hanya berfokus pada skenario konflik di Semenanjung Korea, tetapi juga memperhitungkan perubahan taktik militer Korea Utara setelah pasukannya memperoleh pengalaman tempur dalam perang Rusia-Ukraina.
Sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan akan terlibat dalam latihan tersebut. UFS dirancang untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman, termasuk serangan pesawat nirawak, gangguan sistem GPS, serangan siber, serta bentuk peperangan modern lainnya.
Salah satu perhatian utama Washington dan Seoul adalah pengalaman tempur yang diperoleh tentara Korea Utara setelah dikerahkan untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina. Pengalaman tersebut dinilai dapat memberikan Pyongyang pengetahuan baru mengenai penggunaan teknologi, taktik serangan, serta cara menghadapi medan perang modern.
Korea Utara diketahui telah mengirim pasukan dan persenjataan untuk mendukung Rusia. Selain personel militer, laporan terbaru juga menyebut adanya unit rudal Korea Utara yang dikerahkan ke wilayah Rusia untuk membantu operasi perang di Ukraina.
Keterlibatan tersebut menjadi perhatian bagi Korea Selatan karena pengalaman perang yang diperoleh pasukan Korea Utara berpotensi meningkatkan kemampuan militernya. Seoul dan Washington pun berupaya memasukkan pelajaran dari perang Ukraina ke dalam latihan gabungan mereka.
Latihan UFS akan menggunakan berbagai metode, termasuk simulasi komputer, latihan virtual, latihan lapangan, serta skenario yang melibatkan sejumlah domain operasi. Pendekatan tersebut dirancang agar pasukan sekutu mampu menghadapi konflik yang tidak hanya mengandalkan kekuatan konvensional.
Ancaman siber dan gangguan GPS menjadi salah satu perhatian karena perang modern semakin banyak menggunakan teknologi untuk mengacaukan sistem komunikasi, navigasi, serta komando lawan. Penggunaan drone juga menjadi faktor penting setelah teknologi tersebut terbukti memiliki peran besar dalam perang Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, Korea Utara secara konsisten memandang latihan militer AS-Korsel sebagai latihan untuk melakukan invasi ke wilayahnya. Pyongyang biasanya mengecam latihan tersebut dan menganggapnya sebagai tindakan provokatif.
Ketegangan juga meningkat setelah Korea Utara kembali melakukan uji coba rudal balistik jarak pendek beberapa hari sebelum latihan gabungan dimulai. Peluncuran tersebut mendapat kecaman dari Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang.
Bagi AS dan Korea Selatan, latihan tahun ini menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan menghadapi pola peperangan yang terus berubah. Pengalaman pasukan Korea Utara di Ukraina menjadi salah satu faktor yang membuat Seoul dan Washington semakin serius mempersiapkan skenario konflik di Semenanjung Korea.
Sumber: CNN Indonesia