Jakarta – Harga minyak dunia bergerak stabil di level tinggi pada perdagangan Selasa (11/8/2026), setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredup. Ketidakpastian tersebut membuat pasar tetap mengkhawatirkan gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar US$87,81 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$82,20 per barel. Posisi tersebut membuat harga minyak tetap berada di level tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Pergerakan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menuntut Iran memberikan kompensasi atas kerugian dan korban yang muncul akibat konflik. Tuntutan tersebut dinilai semakin memperlebar perbedaan posisi kedua negara dan mengurangi peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Situasi tersebut menjadi perhatian pasar karena penyelesaian konflik AS-Iran berkaitan erat dengan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Ketidakpastian mengenai pembukaan jalur tersebut membuat pelaku pasar masih memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Data yang dikutip Reuters menunjukkan volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz turun menjadi sekitar 3 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 7 Agustus, dari sekitar 4,4 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Penurunan tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan minyak global.
Tekanan pasokan juga diperburuk oleh perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Operasional kilang Jazan milik Saudi Aramco mengalami penundaan setelah adanya serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas infrastruktur energi di kawasan.
Sementara itu, pasar masih menunggu perkembangan diplomasi Washington dan Teheran. Jika kedua negara berhasil mencapai kesepakatan dan akses melalui Selat Hormuz kembali normal, tekanan terhadap harga minyak berpotensi mereda. Sebaliknya, apabila ketegangan terus meningkat, risiko gangguan pasokan dapat kembali mendorong harga minyak lebih tinggi.
Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian bagi perekonomian global karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi di berbagai negara.
Dengan kondisi geopolitik yang masih belum pasti, pasar minyak diperkirakan tetap bergerak volatil. Investor kini akan mencermati setiap perkembangan negosiasi AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta gangguan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Sumber: CNN Indonesia