JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi, 10 Agustus 2026, kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka naik menjadi Rp17.810 per dolar AS, dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.830 per dolar AS
Penguatan tersebut membuat rupiah terapresiasi sekitar 20 poin atau 0,11% pada awal perdagangan. Pergerakan mata uang Garuda ini menjadi perhatian pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global dan perkembangan pasar keuangan internasional.
Mengutip data Bloomberg, rupiah bergerak menguat pada awal perdagangan Senin. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya sentimen positif di pasar valuta asing terhadap rupiah, meskipun investor masih mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah nilai tukar.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Kebijakan suku bunga AS memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan dolar dan arus modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, kondisi perekonomian domestik juga menjadi perhatian investor. Stabilitas inflasi, kinerja perdagangan, cadangan devisa, serta kebijakan Bank Indonesia menjadi sejumlah faktor yang dapat memberikan pengaruh terhadap daya tarik aset keuangan Indonesia.
Pergerakan rupiah juga tidak terlepas dari kondisi pasar global. Ketika dolar AS melemah atau tekanan terhadap mata uang negara berkembang berkurang, rupiah berpeluang mendapatkan ruang untuk menguat. Namun, volatilitas tetap dapat terjadi apabila muncul perubahan sentimen secara tiba-tiba.
Bagi masyarakat dan dunia usaha, perubahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang cukup luas. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, sedangkan penguatan rupiah dapat membantu menekan biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri.
Bank Indonesia sendiri terus memantau perkembangan pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan moneter dan berbagai langkah stabilisasi dapat digunakan untuk menjaga agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Meski pagi ini menguat ke level Rp17.810 per dolar AS, arah rupiah sepanjang perdagangan masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan domestik. Investor pun diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah dinamika pasar keuangan yang masih berubah-ubah.
Sumber: ANTARA