Seo Services

Sampah Jadi Cuan di Bantul


BANTUL – Sampah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap sebagai persoalan lingkungan justru berhasil diubah menjadi sumber penghasilan oleh warga Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui TPS 3R GO-SARI, masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang memberikan manfaat sekaligus bagi lingkungan dan perekonomian warga.

Setiap hari, sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah rumah tangga dikelola di TPS 3R GO-SARI. Sampah yang masuk tidak sekadar dikumpulkan dan dibuang, tetapi dipilah untuk dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari kompos, pakan ternak, material daur ulang hingga produk olahan lainnya.

Program tersebut kini telah melayani sekitar 1.500 rumah tangga dan membuka lapangan pekerjaan bagi 27 warga setempat. Dari berbagai kegiatan produktif yang dijalankan, GO-SARI mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp98 juta per bulan.

Sampah Dipilah Jadi Empat Kategori

Untuk memudahkan masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya, GO-SARI menggunakan pendekatan sederhana dengan membagi sampah ke dalam empat kategori, yakni bosok, rosok, popok, dan bodongkok.

Sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk pembuatan kompos serta budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan digunakan sebagai pakan ikan dan ternak.

Pengelolaan tersebut bahkan terhubung dengan peternakan ayam petelur. Sekitar 458 ayam dapat menghasilkan kurang lebih 27 kilogram telur per hari. Dengan demikian, sampah organik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga masuk ke dalam rantai ekonomi masyarakat.

Sementara itu, sampah plastik jenis HDPE tidak langsung menjadi limbah. Material tersebut diolah menjadi berbagai produk eco furniture, seperti meja, kursi, rak, hingga pot bunga.

Konsep ini menunjukkan bagaimana sampah yang sebelumnya memiliki nilai rendah dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai jual sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Hasilnya Langsung Dirasakan Warga

Dampak GO-SARI tidak hanya terlihat dari berkurangnya sampah yang harus dibuang. Program ini juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada para pekerjanya.

Salah satu pekerja, Ardian Sajidanto, mengatakan pekerjaan di TPS 3R GO-SARI telah membantu perekonomian keluarganya. Penghasilan dari kegiatan tersebut antara lain digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarga.

Pengembangan GO-SARI juga mendapat dukungan PT Pertamina Patra Niaga sejak 2022. Dukungan tersebut diarahkan agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi program lingkungan sementara, tetapi berkembang menjadi kegiatan produktif yang mampu berjalan secara mandiri di tengah masyarakat.

Kini Pakai Energi Surya

Pengelolaan GO-SARI juga mulai diperkuat dengan pemanfaatan energi bersih. Pada 2026, fasilitas tersebut dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 10 kWh.

Energi tersebut digunakan untuk mendukung operasional berbagai peralatan pengolahan sampah.

Pengelola GO-SARI, Hendry, menyebut penggunaan PLTS membantu memangkas biaya listrik operasional hingga sekitar 60%. Biaya listrik yang sebelumnya berada di kisaran Rp3,5 juta-Rp4 juta per bulan kini turun menjadi sekitar Rp1,5 juta-Rp2 juta per bulan.

Penghematan tersebut membuat biaya operasional menjadi lebih ringan dan memberikan ruang lebih besar bagi pengelola untuk mengembangkan kegiatan pengolahan sampah.

Dari Masalah Lingkungan Jadi Peluang Ekonomi

Keberhasilan GO-SARI menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih dari sekadar membuang limbah. Sampah dapat dipilah, digunakan kembali, didaur ulang, kemudian dimasukkan kembali ke dalam aktivitas ekonomi.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni menjaga agar material dan produk tetap memiliki nilai guna selama mungkin melalui pengurangan sampah, penggunaan kembali, dan daur ulang.

Bagi warga Guwosari, sampah kini bukan hanya persoalan yang harus disingkirkan. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat menjadi lapangan pekerjaan, sumber pendapatan, bahan baku produk baru, sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Kisah GO-SARI menjadi contoh bahwa penyelesaian masalah sampah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dari tempat yang sebelumnya identik dengan limbah, warga justru mampu menciptakan sebuah ekosistem usaha yang memberikan manfaat bagi desa.

Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.