Berdasarkan data otoritas kesehatan Kongo per 11 Agustus, tercatat 4.381 kasus terkonfirmasi dengan 2.011 kematian yang tersebar di lima provinsi. Angka tersebut menunjukkan tingkat kematian sekitar 45,9 persen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah kali ini berpotensi menjadi lebih besar apabila penyebaran tidak segera dikendalikan. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan laju wabah saat ini bahkan berpotensi melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Wabah terbaru ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, strain yang relatif jarang ditemukan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui secara khusus untuk jenis virus tersebut.
Menyebar di Lima Provinsi
Kasus Ebola telah ditemukan di sedikitnya lima provinsi, yakni Ituri, North Kivu, South Kivu, Haut-Uele, dan Tshopo. Penyebaran semakin sulit dikendalikan akibat konflik bersenjata, buruknya infrastruktur, keterbatasan fasilitas kesehatan, serta sulitnya melakukan pelacakan terhadap orang yang melakukan kontak dengan pasien.
Reuters melaporkan bahwa wabah tersebut telah mencapai angka 2.000 kematian dalam waktu kurang dari tiga bulan. Sebagai perbandingan, wabah Ebola Afrika Barat 2014-2016 membutuhkan waktu hampir lima bulan untuk mencapai 1.000 kematian.
WHO juga menyebut sebagian kasus pada fase awal wabah sempat diduga sebagai penyakit lain, seperti malaria dan tifus. Kondisi tersebut membuat deteksi dan penanganan awal menjadi terlambat.
Uji Vaksin Mulai Dilakukan
Di tengah meningkatnya korban jiwa, para peneliti mulai menguji dua kandidat vaksin yang dikembangkan untuk menghadapi virus Bundibugyo. Uji klinis tersebut dilakukan di Provinsi Ituri, salah satu wilayah yang paling terdampak.
WHO juga berencana menguji apakah vaksin Ebola yang sudah tersedia untuk jenis virus lain dapat memberikan perlindungan terhadap Bundibugyo. Hasil penelitian pada hewan sebelumnya menunjukkan adanya potensi perlindungan.
Selain persoalan medis, penyebaran Ebola diperburuk oleh kondisi sosial dan keamanan. Pergerakan penduduk akibat konflik, aktivitas perdagangan, pertambangan, serta keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan membuat upaya isolasi dan pelacakan kontak semakin sulit.
WHO menilai situasi tersebut membutuhkan peningkatan besar dalam upaya penanganan. Jika laju penularan tidak segera ditekan, wabah Ebola di Kongo dikhawatirkan berkembang menjadi krisis kesehatan yang jauh lebih besar.
Sumber: CNN Indonesia, Reuters