Seo Services

Kontribusi Manufaktur RI Makin Turun, Apindo Soroti Ancaman Deindustrialisasi

 

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti terus merosotnya kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian karena industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja formal.

Ketua Umum Apindo Bob Azam mengatakan kontribusi manufaktur Indonesia saat ini berada di kisaran 19% terhadap PDB. Angka tersebut bahkan menjadi sekitar 16% apabila sektor minyak sawit mentah (CPO) dikeluarkan dari perhitungan.


Padahal, kontribusi sektor manufaktur Indonesia pernah mencapai sekitar 29% pada era 2000-an. Penurunan tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam perkembangan industri pengolahan nasional.

Apindo menilai kontribusi manufaktur perlu kembali diperkuat hingga sekitar 25-30% untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.


Menurut Bob, penguatan sektor manufaktur juga berkaitan erat dengan penciptaan lapangan kerja formal. Industri pengolahan dinilai memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan di dalam negeri.

Indonesia juga masih menghadapi persaingan dengan sejumlah negara yang memiliki basis industri manufaktur kuat. Negara seperti China, Korea Selatan, Jepang dan Taiwan sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi dengan dukungan sektor industri yang besar.


Selain kapasitas industri, Apindo turut menyoroti pentingnya kebijakan ketenagakerjaan yang dapat mendukung perkembangan dunia usaha. Regulasi ketenagakerjaan dinilai perlu mampu menjaga perlindungan pekerja sekaligus memberikan ruang bagi industri untuk meningkatkan daya saing.

Meski demikian, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam posisi ekspansi. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) pada kuartal II 2026 tercatat 52,31, dengan komponen pesanan, produksi, dan stok mengalami ekspansi.


Pemerintah juga mencatat adanya tanda pemulihan di sektor manufaktur. Pada Juli 2026, PMI manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi di level 50,2 setelah sebelumnya berada di 46,9.

Namun, penguatan aktivitas industri tersebut tetap dihadapkan pada persoalan struktural berupa daya saing, biaya produksi, rantai pasok, investasi, serta kemampuan menciptakan lapangan kerja berkualitas.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.