JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal Oktober 2026. Rupiah dibuka di level Rp17.906 per dolar AS, menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut memasuki bulan baru.
Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS kembali menguat di pasar global. Kondisi ini turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mengutip laporan CNN Indonesia, Kamis (1/10/2026), rupiah berada di posisi Rp17.906 per dolar AS pada perdagangan pagi. Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar rupiah masih berada di sekitar level Rp18.000 per dolar AS.
Salah satu faktor yang ikut mendorong penguatan dolar AS adalah perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang telah direvisi menunjukkan kinerja ekonomi lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve.
Penguatan dolar AS kemudian membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan. Investor cenderung mencermati perkembangan imbal hasil aset-aset Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga The Fed sebelum menentukan posisi investasinya.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak akhir September. Pada 29 September 2026, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak awal Agustus. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya harga minyak dunia.
Kondisi pasar global tersebut membuat awal Oktober menjadi periode yang masih penuh perhatian bagi rupiah. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan dolar AS, kebijakan Bank Indonesia, serta sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia.
Pergerakan rupiah juga menjadi salah satu indikator penting bagi perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri, terutama bagi sektor yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor.
Bank Indonesia sebelumnya terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal Oktober akan menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu ke depan. Investor masih akan melihat perkembangan ekonomi AS dan global, sekaligus menunggu langkah otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Sumber: CNN Indonesia