JAKARTA – Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) mendorong pengembangan teknologi yang mampu memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tiga hari sebelum kejadian. Teknologi ini diharapkan dapat membantu pemerintah melakukan pencegahan lebih awal sebelum kebakaran meluas dan menimbulkan kabut asap.
Dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (16/10/2026), Wakil Kepala BPGMN Sriyanto menyampaikan bahwa teknologi pemantauan karhutla perlu dikembangkan agar tidak hanya menunjukkan lokasi kebakaran, tetapi juga mampu menganalisis kondisi lingkungan dan memperkirakan risiko kebakaran.
Sriyanto mengakui, kemampuan memprediksi kebakaran hingga tiga hari sebelumnya di seluruh wilayah Indonesia masih menjadi tantangan. Karena itu, diperlukan pengembangan teknologi serta kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki keahlian dalam pengelolaan data dan sistem pemantauan kebakaran.
Menurutnya, sistem yang dikembangkan harus mampu mengolah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk menentukan langkah pencegahan secara cepat dan tepat.
Muka Air Gambut Jadi Indikator Penting
Salah satu indikator yang menjadi perhatian dalam pengembangan sistem prediksi tersebut adalah tinggi muka air gambut. Kondisi air di lahan gambut berpengaruh terhadap tingkat kekeringan dan kerentanan kawasan terhadap kebakaran.
Sriyanto menyebutkan, ketika muka air gambut berada di bawah 40 sentimeter, langkah pencegahan perlu segera dilakukan. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa lahan membutuhkan perhatian lebih untuk mengurangi risiko kebakaran.
Lahan gambut yang mengering lebih mudah terbakar, sementara api dapat merambat hingga ke lapisan bawah permukaan tanah. Kebakaran gambut juga cenderung sulit dipadamkan dan dapat menghasilkan asap dalam waktu lama.
Melalui pemantauan kondisi gambut dan analisis berbagai indikator lingkungan, pemerintah diharapkan dapat mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi sebelum muncul titik api.
Deteksi Dini untuk Melindungi Masyarakat
Pengembangan teknologi prediksi karhutla juga diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Informasi mengenai wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah mitigasi, menyiapkan personel, serta merencanakan evakuasi jika diperlukan.
Sriyanto menilai, ketika risiko kebakaran di suatu kawasan sudah diketahui sejak awal, pemerintah dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi sebelum situasi menjadi lebih buruk.
Selain itu, koordinasi antarlembaga diperlukan agar informasi dari sistem pemantauan dapat segera ditindaklanjuti. Teknologi yang baik tidak cukup hanya menghasilkan data, tetapi juga harus mendukung pengambilan keputusan di lapangan.
BPGMN berencana memanfaatkan teknologi yang telah dikembangkan berbagai pihak sekaligus memperkuat kolaborasi dengan ahli teknologi informasi dan lembaga yang memiliki pengalaman dalam pemantauan karhutla.
Kolaborasi Jadi Kunci Pencegahan Karhutla
Pengembangan sistem prediksi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia. Kedua ekosistem ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sehingga pengelolaannya membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selain mengembangkan sistem peringatan dini, upaya pencegahan juga perlu mencakup pemulihan lahan gambut yang rusak, pengelolaan air, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.
Target prediksi hingga tiga hari sebelum kebakaran diharapkan dapat memberikan waktu lebih panjang bagi petugas untuk melakukan tindakan pencegahan. Meski demikian, kemampuan tersebut masih perlu dikembangkan dan diuji agar dapat diterapkan secara efektif di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan dukungan teknologi, koordinasi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat, pemerintah berharap risiko karhutla dapat ditekan sehingga dampak kerusakan lingkungan dan kabut asap terhadap kesehatan masyarakat bisa diminimalkan.
Sumber: CNN Indonesia, VOI, dan IDN Times
