CAIRNS – Penemuan alat perekam video tersembunyi di kapal Angkatan Laut Kerajaan Australia (Royal Australian Navy) memicu penyelidikan polisi militer. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran terkait pelanggaran privasi awak kapal, khususnya personel perempuan yang diduga menjadi sasaran perekaman tanpa izin.
Dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (16/10/2026), alat perekam tersebut ditemukan pada 11 Oktober 2026 di kapal HMAS Leeuwin ketika sedang bersandar di Cairns, Queensland, Australia.
Kementerian Pertahanan Australia mengonfirmasi bahwa perangkat tersebut telah dilaporkan kepada Joint Military Police Unit untuk diselidiki bersama aparat penegak hukum sipil. Kapal itu tetap bersandar guna mendukung proses penyelidikan sekaligus memastikan awak yang terdampak memperoleh pendampingan.
Kasus ini mencuat setelah Senator Australia Jacqui Lambie mengangkat persoalan tersebut di parlemen. Ia mengaku menerima informasi mengenai dugaan kamera tersembunyi yang ditemukan di fasilitas kamar mandi perempuan di kapal tersebut.
Lambie juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan rekaman yang dihasilkan telah diunggah ke internet sebelum perangkat ditemukan. Namun, hingga kini, belum ada konfirmasi resmi bahwa rekaman tersebut benar-benar dibuat atau disebarluaskan.
Satu Personel Militer Diperiksa
Perkembangan terbaru pada Kamis (15/10/2026), Angkatan Pertahanan Australia mengidentifikasi seorang personel militer sebagai pihak yang perlu dimintai keterangan dalam penyelidikan. Personel tersebut telah membantu polisi militer dalam proses pemeriksaan.
Pihak berwenang belum mengumumkan adanya penetapan tersangka. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap siapa yang memasang perangkat tersebut, bagaimana alat itu digunakan, serta apakah ada rekaman yang diambil atau disebarkan tanpa persetujuan pihak yang terdampak.
Kepala Angkatan Laut Australia, Laksamana Madya Matt Buckley, menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan persoalan serius. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan personel menjadi prioritas, sementara tindakan yang melanggar kepercayaan di lingkungan militer tidak dapat ditoleransi.
Sebagai tindak lanjut, komando Angkatan Laut Australia juga memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas kamar mandi di seluruh armada untuk memastikan tidak terdapat perangkat perekam serupa.
Picu Kekhawatiran soal Keamanan Personel Perempuan
Kasus kamera tersembunyi tersebut kembali memunculkan pembahasan mengenai perlindungan privasi dan keamanan personel perempuan di lingkungan militer Australia.
Senator Jacqui Lambie mendesak agar pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada HMAS Leeuwin, tetapi juga mencakup kapal dan fasilitas militer lainnya. Ia turut menyoroti pentingnya mekanisme penanganan laporan pelanggaran yang dapat memberikan perlindungan kepada korban.
Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, mengatakan penyelidikan masih berjalan sehingga sejumlah informasi belum dapat diungkapkan. Ia juga menyebut belum ada indikasi yang menunjukkan bahwa insiden tersebut berkaitan dengan kegiatan spionase.
Pemerintah Australia menegaskan akan memberikan perhatian terhadap kasus tersebut dan mendukung proses penyelidikan. Sementara itu, kemungkinan adanya rekaman yang beredar di internet masih menjadi salah satu pertanyaan yang belum terjawab.
Hingga Jumat (16/10/2026), penyelidikan masih berfokus pada pengungkapan fakta, penelusuran pihak yang bertanggung jawab, serta pemeriksaan untuk memastikan keamanan personel di kapal-kapal Angkatan Laut Australia.
Sumber: CNN Indonesia, Australian Defence
