RIYADH – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Arab Saudi. Salah satu sasaran yang disebut adalah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, selain fasilitas minyak milik Saudi Aramco dan sejumlah lokasi militer.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Houthi mengklaim serangan ke Bandara King Khalid mengganggu aktivitas penerbangan di ibu kota Saudi.
Selain bandara, Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas kilang Aramco di Rabigh, wilayah Provinsi Makkah. Kelompok tersebut menyebut serangan menyebabkan kebakaran di fasilitas minyak tersebut. Namun, klaim mengenai kerusakan dan dampak serangan belum langsung dikonfirmasi oleh pemerintah Arab Saudi maupun Aramco.
Houthi menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap operasi militer Arab Saudi dan pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman. Eskalasi terjadi ketika pasukan yang didukung Saudi meningkatkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melakukan serangan balasan terhadap posisi Houthi di wilayah pesisir Laut Merah. Pasukan koalisi mengklaim menghancurkan sejumlah depot senjata, fasilitas penyimpanan kapal berpeledak, serta ranjau laut yang dinilai mengancam jalur pelayaran.
Pakistan dan Turki Siapkan Pasukan
Situasi semakin serius setelah Pakistan dan Turki sepakat mengerahkan pasukan ke Arab Saudi. Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan darurat antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki di Riyadh.
Ketiga negara sebelumnya telah memiliki pakta pertahanan bersama. Dalam kesepakatan terbaru, mereka menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menyediakan kemampuan militer dan memastikan pengerahan pasukan secara cepat ke Arab Saudi.
Namun, belum dijelaskan secara rinci jumlah pasukan yang akan dikirim maupun tugas spesifik mereka setelah tiba di Arab Saudi.
Eskalasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas energi Saudi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, mengingat Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia.
Harga minyak pun masih mendapat tekanan dari perkembangan konflik di kawasan. Investor mencermati kemungkinan gangguan terhadap fasilitas produksi, jaringan pipa, serta jalur pelayaran yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi dunia.
PBB turut menyatakan keprihatinan atas meningkatnya pertempuran di Yaman dan serangan lintas batas ke Arab Saudi. Konflik yang kembali memanas ini juga telah menyebabkan perpindahan penduduk dalam jumlah besar.
Dengan keterlibatan Arab Saudi, Pakistan, dan Turki serta meningkatnya serangan Houthi terhadap fasilitas strategis, perkembangan konflik Yaman kini menjadi salah satu titik panas yang kembali diperhatikan dunia. Dampaknya tidak hanya menyangkut keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi penerbangan, pelayaran, dan pasar energi global.
Sumber: CNN Indonesia