INTERNASIONAL – Fakta baru terungkap dalam insiden penerbangan Flydubai yang nyaris berujung bencana. Kopilot pesawat Flydubai FZ1073 diduga berencana menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion di Tel Aviv atau sebuah gedung bertingkat di Israel, dengan meniru serangan 11 September 2001 atau tragedi 9/11.
Pesawat tersebut terbang dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September 2026 dengan membawa lebih dari 170 penumpang dan awak. Sekitar dua setengah jam setelah lepas landas, kopilot diduga menyerang kapten menggunakan kapak darurat yang tersimpan di kokpit. Otoritas Uni Emirat Arab menyebut insiden tersebut sebagai aksi terorisme.
Kopilot yang disebut bernama Hamam al-Hammami, warga negara Oman, kemudian diduga berusaha mengambil alih kendali pesawat. Serangan tersebut membuat pesawat sempat kehilangan ketinggian secara drastis sebelum situasi berhasil dikendalikan.
Kapten Smit Machchhar yang mengalami luka akibat serangan berhasil membuka pintu kokpit. Sejumlah penumpang kemudian masuk dan membantu melumpuhkan pelaku. Pilot cadangan yang berada di dalam pesawat selanjutnya mengambil alih kendali dan membawa pesawat mendarat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi.
Menurut laporan yang dikutip CNN Indonesia dan sejumlah media internasional, al-Hammami disebut mengaku kepada penyidik bahwa dirinya ingin menerbangkan pesawat seperti biasa hingga memasuki wilayah udara Israel. Setelah mendapatkan izin mendarat, ia diduga berencana mengubah arah pesawat dan menabrakkannya ke Bandara Ben Gurion atau gedung bertingkat di Tel Aviv.
Rencana tersebut disebut memiliki kemiripan dengan serangan 9/11 di Amerika Serikat pada 2001, ketika pesawat yang dibajak digunakan sebagai senjata untuk menyerang sejumlah target. Namun, informasi mengenai motif dan rencana al-Hammami masih menjadi bagian dari penyelidikan dan belum seluruhnya dikonfirmasi secara independen.
Penyelidikan juga menemukan dugaan bahwa al-Hammami telah memikirkan aksi serupa sebelum penerbangan tersebut. Ia dilaporkan pernah berniat membajak penerbangan lain menuju Tel Aviv, tetapi membatalkan rencana karena mengenal seseorang yang berada di dalam pesawat.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena muncul pertanyaan mengenai proses pemeriksaan dan perekrutan kopilot tersebut. Sebelum bekerja di Flydubai, al-Hammami disebut pernah dilarang menerbangkan pesawat di Oman karena kekhawatiran terkait pandangan ekstremis. Investigasi melibatkan sejumlah pihak untuk menelusuri latar belakang dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa al-Hammami menjalankan aksi tersebut atas perintah organisasi tertentu. Sejumlah sumber menyebut penyidik masih mendalami kemungkinan bahwa ia bertindak seorang diri.
Insiden tersebut akhirnya tidak menimbulkan korban jiwa di antara penumpang. Keberhasilan kapten, awak pesawat, pilot cadangan, dan sejumlah penumpang melumpuhkan pelaku membuat pesawat dapat mendarat dengan selamat.
Sumber: CNN Indonesia, Reuters