Jakarta – Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali meningkat setelah Pyongyang mengumumkan rencana mengaktifkan pengeras suara propaganda serta menempatkan unit militer pada posisi tembak di sepanjang perbatasan kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Ia mengatakan bahwa pengeras suara untuk perang psikologis terhadap Korea Selatan akan mulai beroperasi kembali di sepanjang perbatasan sebelum akhir Oktober 2026.
Kim Yo Jong juga menyebutkan bahwa unit-unit militer taktis Korea Utara telah mengambil posisi baru. Langkah tersebut diklaim sebagai respons terhadap tindakan Korea Selatan yang dianggap mengancam keamanan pasukan Pyongyang.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah muncul perselisihan mengenai aktivitas militer dan penguatan pertahanan di Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ), wilayah yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan.
Sebelumnya, Korea Selatan menuduh Korea Utara bertanggung jawab atas ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan yang mengakibatkan sejumlah tentaranya terluka. Namun, Pyongyang membantah tuduhan tersebut.
Di sisi lain, militer Korea Selatan menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap provokasi yang mengancam keselamatan personelnya. Seoul juga menyatakan bahwa penggunaan pengeras suara dan tembakan peringatan merupakan bagian dari langkah pertahanan untuk mencegah pelanggaran garis demarkasi militer.
Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di Semenanjung Korea. Pengaktifan kembali pengeras suara propaganda dan peningkatan kesiagaan militer berpotensi memperburuk hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan.
Hingga perkembangan tersebut dilaporkan, kedua pihak masih saling melontarkan tuduhan terkait aktivitas militer di perbatasan. Kondisi ini membuat kawasan DMZ kembali menjadi titik rawan yang perlu mendapat perhatian internasional.
Sumber : CNN Indonesia
