Seo Services

Pelajar Prancis Demo, Korut Uji Rudal AI

 

PARIS — Ribuan pelajar di Prancis turun ke jalan dalam aksi demonstrasi besar yang menyoroti kondisi pendidikan, sementara di Asia Timur Korea Utara kembali membuat perhatian dunia tertuju pada kemampuan militernya setelah menguji coba rudal balistik yang diklaim menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Aksi demonstrasi pelajar di Prancis telah meluas ke berbagai wilayah. Para siswa memprotes kondisi sekolah yang dinilai semakin buruk, mulai dari ruang kelas yang padat, kekurangan guru, hingga fasilitas sekolah yang tidak memadai. Gerakan tersebut bahkan berkembang menjadi aksi nasional dengan lebih dari 1.200 sekolah terdampak.


Protes yang awalnya muncul di wilayah pinggiran Paris kemudian menyebar ke berbagai kota. Sejumlah aksi berujung bentrokan dengan aparat dan menyebabkan ribuan orang ditangkap. Para demonstran menilai pemerintah belum memberikan perhatian yang cukup terhadap persoalan pendidikan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kesenjangan sosial tinggi.

Persoalan tersebut semakin menjadi sorotan setelah pemerintah Prancis merencanakan kenaikan anggaran pendidikan sebesar 1,7% pada 2027, angka yang dinilai belum mampu mengejar inflasi dan kebutuhan sekolah. Guru serta sejumlah serikat pekerja juga ikut memberikan dukungan terhadap tuntutan para pelajar.


Korut Uji Rudal Berteknologi AI


Di sisi lain, Korea Utara kembali melakukan uji coba senjata strategis. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan mengawasi langsung pengujian rudal balistik jarak menengah yang diklaim memiliki kemampuan manuver dan dibantu teknologi AI.

Rudal tersebut diluncurkan dari wilayah timur Korea Utara dan dilaporkan terbang lebih dari 700 kilometer sebelum jatuh ke laut. Media pemerintah Korea Utara menyebut pengujian itu ditujukan untuk meningkatkan kemampuan sistem senjata strategis dan memperkuat daya tangkal nuklir negara tersebut.


Adik Kim Jong-un, Kim Yo-jong, mengatakan rudal tersebut menggunakan pola lintasan tertentu yang disebut dapat menyulitkan sistem pelacakan dan pertahanan rudal lawan. Korea Utara mengklaim teknologi tersebut dapat membuat rudal mengubah jalurnya pada ketinggian rendah sehingga lebih sulit dicegat.

Namun, Korea Selatan menyatakan militernya tetap berhasil mendeteksi peluncuran tersebut. Rudal itu disebut terbang lebih dari 700 kilometer ke arah laut di pesisir timur Korea Utara.


Uji coba tersebut berlangsung ketika ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat. Korea Utara juga telah melakukan lebih dari 10 uji coba rudal sepanjang 2026, sementara hubungan Pyongyang dengan Seoul masih diwarnai ketegangan terkait insiden ranjau darat di wilayah perbatasan.

Dua peristiwa dari Prancis dan Korea Utara tersebut menjadi perhatian internasional dengan latar berbeda. Di Prancis, pemerintah menghadapi tekanan dari generasi muda terkait kualitas dan anggaran pendidikan, sedangkan Korea Utara terus memperlihatkan upaya pengembangan kemampuan persenjataan strategisnya.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.