Seo Services

PM Jepang Marah, Marinir AS Diduga Bunuh Warga Okinawa

 

TOKYO — Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat setelah seorang anggota Korps Marinir AS ditangkap karena diduga merampok dan membunuh seorang perempuan Jepang di Okinawa.

Marinir berusia 20 tahun bernama Devin Jacob Ballard diduga terlibat dalam kematian Anna Yagi, 39 tahun, di sebuah hotel di Kota Naha, Okinawa. Polisi Jepang menyebut korban ditemukan meninggal pada Sabtu (3/10/2026), sementara Ballard diduga mengambil dompet dan tas ransel milik korban. Ia membantah tuduhan tersebut.


Takaichi menyebut kasus tersebut sebagai tindakan yang sangat brutal dan keji. Pemerintah Jepang kemudian menyampaikan protes resmi kepada pihak AS dan meminta kerja sama penuh dalam proses penyelidikan.

Selain itu, Tokyo meminta Amerika memperketat disiplin personel militernya serta mengambil langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.


Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi juga menyatakan kemarahannya. Ia menegaskan bahwa insiden yang melibatkan personel militer AS telah menimbulkan keresahan besar bagi masyarakat Okinawa dan tidak seharusnya kembali terjadi.

Kementerian Pertahanan Jepang bahkan memanggil pihak militer AS untuk menyampaikan protes secara langsung. Pemerintah Jepang meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh sekaligus menuntut AS memberikan respons yang tepat kepada keluarga korban.


Kembali Soroti Kehadiran Militer AS


Kasus ini kembali membuka persoalan lama mengenai keberadaan militer Amerika Serikat di Okinawa. Wilayah tersebut menjadi tempat sebagian besar personel Marinir AS yang ditempatkan di Jepang.

Sekitar 54.000 personel militer AS berada di Jepang, dengan sekitar 18.000 di antaranya merupakan anggota Korps Marinir. Sebagian besar pasukan Marinir tersebut ditempatkan di Okinawa.


Kehadiran militer AS selama puluhan tahun memang menjadi isu sensitif bagi masyarakat Okinawa. Berbagai kasus kriminal, kecelakaan, kebisingan, serta persoalan terkait pangkalan militer sebelumnya telah memicu penolakan dan demonstrasi warga.

Kasus terbaru ini berpotensi kembali meningkatkan ketegangan antara masyarakat Okinawa dan keberadaan pangkalan militer AS. Apalagi, pemerintah Jepang dan AS masih membutuhkan kerja sama pertahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Asia Timur.


Pihak Kedutaan Besar AS di Jepang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan memastikan Washington bekerja sama dengan otoritas Jepang. Korps Marinir AS juga menyatakan akan bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan dan menegaskan bahwa mereka menanggapi tuduhan tersebut dengan serius.

Kasus ini kini masih dalam proses penyelidikan aparat Jepang. Pemerintah Tokyo berharap proses hukum dapat berjalan maksimal sekaligus meminta AS memastikan tindakan pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.