JAKARTA – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda bergerak naik di tengah pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak dunia yang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.
Mengutip CNN Indonesia, rupiah menguat hingga berada di kisaran Rp17.885 per dolar AS pada perdagangan pagi. Penguatan ini menjadi perkembangan positif setelah rupiah ditutup pada level Rp17.899 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Data perdagangan pagi juga menunjukkan dolar AS melemah tipis. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip detikFinance, dolar AS turun 0,09% ke level Rp17.883 pada Senin pagi, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.899.
Salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah adalah penurunan harga minyak dunia. Pasar merespons harapan meredanya ketegangan Rusia-Ukraina setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim kedua negara sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.
Harapan tersebut turut memunculkan optimisme mengenai kemungkinan membaiknya pasokan bahan bakar. Selain itu, pelemahan indeks dolar AS juga memberikan ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi menahan penguatan mata uang Garuda, terutama apabila konflik kembali mengganggu jalur distribusi energi dan mendorong kenaikan harga minyak.
Pengamat pasar uang memperkirakan penguatan rupiah berpotensi berlangsung terbatas. IDN Times melaporkan bahwa rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin.
Pergerakan nilai tukar selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan situasi global, arah dolar AS, harga komoditas energi, serta respons investor terhadap risiko geopolitik. Karena itu, penguatan pada awal perdagangan belum cukup untuk memastikan rupiah akan terus menguat hingga penutupan pasar.
Sumber: CNN Indonesia
