Seo Services

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakat Damai

 

JAKARTA – Harga minyak dunia turun lebih dari 1% pada Senin (12/10/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa gangguan pasokan energi global dapat berkurang.

Dikutip dari CNN Indonesia, penurunan harga minyak terjadi setelah Trump menyampaikan bahwa kesepakatan gencatan senjata energi antara kedua negara langsung berlaku. Meski demikian, pengumuman itu belum disertai penjelasan terperinci mengenai mekanisme pelaksanaan maupun pengawasannya.


Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 1,47% menjadi US$103,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 1,68% menjadi US$90,31 per barel. Harga tersebut menunjukkan respons pasar terhadap kemungkinan membaiknya prospek pasokan energi. 

Pasar berharap penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dapat mengurangi risiko gangguan produksi dan distribusi bahan bakar. Sebelumnya, serangan terhadap kilang minyak Rusia ikut mengganggu pengolahan minyak, sementara konflik yang lebih luas turut menekan ketersediaan bahan bakar di pasar internasional.


Selain klaim gencatan senjata, prospek tambahan pasokan solar dari Rusia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Trump sebelumnya menyatakan Rusia akan memasok lebih dari 300 ribu ton solar, dengan tambahan pasokan yang direncanakan pada bulan-bulan berikutnya. Tambahan pasokan tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap ketatnya pasar bahan bakar.

Namun, kepastian kesepakatan damai tersebut masih dipertanyakan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa pengumuman Trump merupakan informasi baru baginya. Sementara itu, Rusia belum memberikan konfirmasi langsung mengenai klaim kesepakatan tersebut.


Ketidakpastian itu membuat pasar belum sepenuhnya terbebas dari risiko geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman serta ancaman terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, masih berpotensi mengganggu jalur pasokan energi global. 

Dengan demikian, penurunan harga minyak kali ini lebih mencerminkan harapan pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik, bukan bukti bahwa perang Rusia-Ukraina telah berakhir. Pergerakan harga selanjutnya akan bergantung pada kejelasan pelaksanaan gencatan senjata, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta realisasi tambahan pasokan bahan bakar ke pasar dunia.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.