JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat investasi valuta asing (valas) kembali menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini mendorong investor untuk mempertimbangkan dolar AS sebagai salah satu instrumen diversifikasi aset di tengah ketidakpastian pasar keuangan.
Pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026), rupiah melemah 83 poin atau 0,46% ke level Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.938 per dolar AS. Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Meski demikian, investasi valas tidak selalu menghasilkan keuntungan. Penguatan dolar terhadap rupiah memang dapat meningkatkan nilai simpanan dolar ketika dikonversi kembali ke rupiah, tetapi pergerakan kurs bisa berubah sewaktu-waktu. Investor juga perlu memperhitungkan selisih kurs jual dan beli serta biaya transaksi.
Salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan adalah membeli valas secara bertahap, bukan langsung menempatkan seluruh dana pada satu waktu. Cara ini membantu mengurangi risiko membeli dolar ketika harganya sedang berada di level tinggi. Pembelian berkala juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan masing-masing investor.
Strategi berikutnya adalah menentukan tujuan kepemilikan dolar. Valas dapat digunakan untuk kebutuhan masa depan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan, atau pembayaran internasional. Jika tujuan investasinya hanya mencari keuntungan dari perubahan kurs, investor perlu menyadari bahwa hasilnya sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar.
Diversifikasi juga penting agar dana tidak seluruhnya bergantung pada dolar AS. Investor dapat membagi aset sesuai kebutuhan dan profil risiko, misalnya dengan tetap memiliki dana darurat dalam rupiah serta mempertimbangkan instrumen investasi lain untuk tujuan jangka panjang.
Selain itu, masyarakat perlu membandingkan kurs jual dan kurs beli dari bank atau penyedia layanan valas resmi sebelum melakukan transaksi. Selisih kedua kurs tersebut dapat mengurangi keuntungan, terutama jika pembelian dan penjualan dilakukan dalam waktu singkat.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Bank Indonesia menyatakan terus melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Di tengah kondisi tersebut, investor sebaiknya tidak membeli dolar semata-mata karena khawatir rupiah akan terus melemah. Keputusan investasi perlu didasarkan pada tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, serta kemampuan menanggung risiko perubahan kurs.
Dengan perencanaan yang matang, valas dapat menjadi salah satu bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Namun, bagi investor yang berorientasi jangka panjang, disiplin dalam mengelola risiko dan menjaga diversifikasi tetap menjadi hal penting.
Sumber: CNN Indonesia dan ANTARA.
