Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa telah menyebabkan hampir 1.000 orang meninggal dunia di Belanda. Berdasarkan analisis terbaru, sebanyak 911 kematian tercatat berkaitan dengan cuaca panas ekstrem yang terjadi selama periode 22 Juni hingga 5 Juli 2026, menjadikan heatwave kali ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Data tersebut diungkapkan oleh lembaga kesehatan masyarakat Belanda yang mencatat lonjakan angka kematian seiring meningkatnya suhu udara hingga jauh di atas rata-rata musiman. Korban didominasi oleh kelompok lanjut usia (lansia), penderita penyakit kronis, serta masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dengan tingkat paparan panas tinggi.
Para ahli menjelaskan bahwa suhu tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut meningkatkan risiko dehidrasi, serangan panas (heatstroke), gangguan pernapasan, hingga penyakit kardiovaskular. Kondisi tersebut menjadi lebih berbahaya karena suhu pada malam hari tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.
Fenomena gelombang panas tahun ini tidak hanya melanda Belanda. Sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Belgia, Spanyol, dan Italia juga mengalami suhu ekstrem yang memicu kebakaran hutan, gangguan layanan transportasi, serta meningkatnya konsumsi listrik akibat penggunaan pendingin udara secara masif. Otoritas di berbagai negara bahkan mengeluarkan peringatan kesehatan dan membuka pusat-pusat pendinginan (cooling centers) bagi masyarakat rentan.
Pakar iklim menilai meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim global. Mereka memperingatkan bahwa kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi apabila emisi gas rumah kaca tidak berhasil ditekan secara signifikan.
Pemerintah Belanda mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memberikan perhatian khusus kepada lansia dan kelompok rentan lainnya selama suhu ekstrem masih berlangsung. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menekan risiko kematian akibat gelombang panas di masa mendatang.
Sumber: CNN Indonesia.
