BANYUWANGI — Berawal dari komunitas petani lokal, Sirtanio Organik Indonesia terus mengembangkan beras organik Banyuwangi hingga menembus pasar internasional. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana produk pertanian daerah dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika dikembangkan secara berkelanjutan dan melibatkan petani secara langsung.
Sirtanio bermula dari kelompok tani Mendo Sampurno yang berdiri pada 1997. Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi pusat pelatihan pertanian organik sebelum akhirnya Sirtanio berbadan hukum sebagai perusahaan pada 2017.
Dalam menjalankan usahanya, Sirtanio menggandeng 205 petani mitra di 13 kecamatan Banyuwangi dengan lahan mencapai sekitar 176 hektare. Petani tidak hanya berperan sebagai pemasok, tetapi menjadi bagian utama dalam rantai produksi beras organik yang kemudian digiling dan dikemas oleh Sirtanio.
Produk yang dihasilkan mencakup beras merah, putih, hitam, cokelat, hingga beras Melik. Seluruhnya dikembangkan dari lahan pertanian di Banyuwangi dengan konsep budidaya organik.
Upaya memperluas pasar juga terus dilakukan. Sirtanio mencatat ekspor pertamanya ke Italia pada 2019. Di pasar domestik, produknya kini telah menjangkau sekitar 1.304 titik penjualan di 27 kota, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 100 ton per bulan.
Pengembangan beras organik ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal. Dengan pengelolaan dari budidaya hingga pengemasan, produk yang berasal dari sawah petani Banyuwangi dapat dipasarkan sebagai produk dengan identitas daerah dan standar yang lebih luas.
Kisah Sirtanio memperlihatkan bahwa produk pertanian dari desa tidak hanya memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tetapi juga dapat dibawa menuju pasar global ketika didukung pengelolaan, kualitas produk, serta keterlibatan petani yang berkelanjutan.
Sumber: CNN Indonesia