Seo Services

Ini Saham Pilihan untuk Diburu Pekan Ini

 

JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengawali Oktober 2026 dengan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi aksi jual investor, pergerakan rupiah, hingga sentimen global yang membuat pasar bergerak cukup volatil.

Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036,89. Namun, secara mingguan indeks masih mencatat penurunan 3,28% sepanjang periode 28 September-2 Oktober 2026.


Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham dinilai masih memiliki peluang untuk memberikan keuntungan bagi investor pada pekan awal Oktober. Peluang tersebut terutama berasal dari saham-saham yang memiliki katalis fundamental maupun prospek pertumbuhan bisnis.

Salah satu saham yang menjadi perhatian adalah PT Petrosea Tbk (PTRO). Saham ini dinilai memiliki katalis dari ekspansi bisnis logistik serta penguatan rantai nilai perusahaan. Ekspansi tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap kinerja perusahaan.


Saham berikutnya adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Prospek MDKA mendapat dukungan dari bisnis emas, terutama setelah Pani Gold Mine memasuki fase produksi. Peningkatan produksi emas berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan bagi perusahaan.


Kemudian ada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang dinilai menarik dari sisi pemulihan kinerja operasional. Perseroan mencatat pendapatan Rp22,03 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 8% secara tahunan. Laba bersih bahkan melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun.

Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan produksi, penjualan ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batu bara. Dengan prospek pemulihan volume produksi dan efisiensi operasional, PTBA dinilai masih memiliki katalis positif untuk perdagangan ke depan.


Selain saham, investor juga disarankan mencermati instrumen surat utang pemerintah. Salah satu pilihan yang disebut adalah FR0100, terutama jika pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat mendorong ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga. Jika ekspektasi tersebut berlanjut, imbal hasil obligasi berpotensi turun sehingga harga obligasi dapat memperoleh keuntungan.


Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko pasar. Pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan The Fed, yield US Treasury, nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik.

Dengan IHSG yang masih berada di sekitar level 6.000, pekan awal Oktober diperkirakan menjadi periode penting bagi investor untuk menentukan strategi. Pemilihan saham sebaiknya tetap disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing, bukan hanya mengejar potensi keuntungan jangka pendek.


Sumber: CNN Indonesia

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.